Merengkuh Sang Mawar Muda?

Kau tidak mempercayainya? Awalnya akupun ingin untuk tidak mempercayai ini. Tapi, inilah kenyataanya. Aku terjatuh pada sosok yang tak seharusnya. Akupun berjuang agar tidak masuk terlalu jauh ataupun menyelam terlalu dalam. Aku menampar diriku, kuyakinkan diriku bahwa ini tidaklah nyata. Tapi, itu malah menyakitkanku. Kenyataan memang seperti ini dan membawa aku masuk ke dalamnya. Gadis belia, sempurna dan berambut panjang. Putih, kurus dan menurutku sempurna. Namun, sedalam aku menyelami lautan untuk mengerti dengan keadaan, tetap saja aku tidak mengerti. Bukan dia yang menjadi masalah dalam pembicaraan ini, bukan dia yang menjadi akar dari masalah ini, melainkan aku. Aku yang tak bisa membendung pancaran mata itu. Gelap dan kalut, aku menjalani ini. Sesak dan terengah mencoba meyakinkan kenyataan. Panorama yang hidup, hanya elok dipandang namun tak bisa disentuh. Duri setangkai mawar bisa saja melukai tanganku saat kupetiknya. Tapi ini beda, aku tidak bisa bisa memetiknya, karena tidak mungkin memetiknya. Karena mawar itu hanya sekuncup yang baru tumbuh. Namun, harumnya telah menggoda dan masuk ke dalam sukma. Aku membiarkannya dan mungkin memperhatikannya. Hingga saatnya tiba, saat sang mawar telah tumbuh dan menampakan mahkotanya, aku akan memetiknya, walau jaminannya duri dari sebuah kenyataan. Hingga kenestapaan bahwa tidak hanya aku yang menyukai mawar dan mungkin aku bukanlah satu-satunya orang yang memperhatikannya, mawar yang sama. Atau akan jauh lebih asri dan indah.

rindu aroma

Matahari tepat berada di atas kepala membakar semua ada.
Panas kurasa, gerah dan haus.

Peluh bercucuran di tubuhku, basah.

Bagai serigala yang lapar, aku terus berjalan mencari aroma yang tercium dari kejauhan.

Di tengah padang pasir yang tak berujung, aku bingung.
Aroma itu terasa dekat. Namun terkadang menghilang.
Apakah aroma yang tercium semerbak itu untukku? Atau ia hanya tak sengaja lewat terbawa oleh angin, lalu menyentuh sukmaku dan pergi.
Atau, aku hanya terlalu rindu dengan aroma itu.

story of Sarah (hari yang panjang bersama Dominic 2)

[Pick the date]

Hari yang panjang bersama Dominic season 2
Cerita Berlanjut

Oleh: Anharudini
Hari yang panjang bersama Dominic season 2
Cerita Berlanjut

6 tahun kemudian.
Suatu tempat di pinggir laut. Dua pria berbadan besar lengkap dengan setelan kemeja putih dan dengan jas seta kecamata hitam. Tampak mereka sedang menunggu seseorang yang akan muncul di laut sana. Sementara satu pria lagi sedang bersiap di tepi jalan yang tak jauh dari pantai menunggu dalam sebuah mobil jenis sedan berwarna hitam. Pria dalam mobil tersebut tidak mematikan mesinnya.
Terlihat langkah seorang pria dari arah laut yang dangkal. Dia muncul dengan setelan diving dan menuju dua pria tadi. Terengah-engah ia melangkah dengan seluruh badan yang basah kuyup dengan air laut. Apa yang terjadi? Sepertinya pria itu tampak tidak asing dalam cerita ini. Ya, dia memang tidak asing.
“Hmm……………. “. Antonini menghirup udara yang sangat segar. Bagai singa yang baru saja terlepas dari sebuah kandang selama bertahun-tahun. Ia merasakan kebebasan yang tak ia rasakan selama dalam penjara.
“Hey, bos!”. Salah-satu dari dua pria tadi menyapa sambil menyerahkan pakaian yang masih terbungkus dengan plastik.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun ia langsung mengenakan pakaiannya sampai bagian terakhir ia melipat kerahnya dengan seksama.
“Kau terlihat keren, bos”. Satu dari pria itu berkata lagi “Apa kau siap, bos?”. Antonini tak berkata sepatah katapun hanya mengelap wajahnya dengan tisyu.
“Selamat datang kembali, bos”. Akhirnya mereka menuju mobil yang telah disiapkan tadi.
“”Mau ke mana kita, bos?”. Sapa seorang pria yang menunggu dalam mobil tadi
“Pulang”. Antonini berbicara serak
“Setelah itu?”.
“Kita bunuh mereka semua”. Antonini menjawab sambil memakai kacamata hitam, lalu merekapun pergi.

“Sarah!”. Terdengar pak Erik memanggil Sarah. Pagi tiu ia hendak sarapan pagi di meja makan. “Sarah di mana, bi?”. Pak bertanya kepada bibi Margareth.
“Tuan nyonya masih di kamarnya, tuan. Maaf tuan, boleh saya menyusulnya?”. Bibi Margareth menawarkan untuk menjemput Sarah yang masih di kamarnya.
“Tidak usah, biar saya sendiri yang ke sana”. Jawab pak Erik tegas. Lalu dia berdiri dan berjalan menuju kamar Sarah. Tiba ia di depan pintu kamar,
“Tok, tok, tok…”. Pak Erik mengetuk pintu
“Sarah! Sarah!”. Namun tak ada respon di dalam, iapun membuka pintu kamar tersebut.
“Krek,,,,,,”. Suara pintu kamar dibuka.
“Ow, puteri kecil ayah masih tidur ternyata”. Kemudian pak Erikpun menghampiri Sarah yang masih tertidur di ranjang empuknya, pak Erik tersenyum.
“Sayang, ayo bangun. Mari kita sarapan”. Pak Erik berbisik di telinga Sarah.
“Hoam,,,, Sarah masih ngantuk, yah”. Sahut sarah manja. “Lagian, sekarangkan hari libur”. Sarah menutup wajahnya dengan selimut.
“kamu lupa ya, nak? Kita kan sudah sepakat bahwa hari ini kita akan pergi ke taman. Apa kau lupa?”
“Oh iya. Aku hampir saja lupa”. Sarah menjawab sambil membuka selimutnya tadi “Tapi, yah…..”. Sarah mengeluh
“Tapi apa?”
“Sarah mau digendong dulu, baru mau bangun”.
“Huh, sini naik punggung ayah?”. Pak Erik membungkukkan badannya
“Beneran, yah?”.
“Iya. Untuk puteri kecil ayah yang cantik, apa sih yang nggak.”
“Asyik, aku digendong”. Sarah tersenyum girang. Lalu pak Erik menggendongnya menuju ruang makan.
“Sarah-sarah, usiamu sudah dua puluh satu tahun, tapi masih saja seperti ini”. Pak Erik mengoceh sambil berjalan menggendong arah yang tampaknya ia keberatan. Sementara Sarah hanya tersenyum sambil menyandarkan kepalanya ke bahu kanan belakang pak Erik.
Sampai mereka di ruang makan. Terlihat oleh sarah roti dengan olesan selai strawberry khas buatan bibi Margareth kesukaannya. Lalu mereka duduk berhadapan di masing-masing kursi dan siap untuk menyantap sarapan.
Pak Erik memulainya dengan irisan tipis lalu mengunyahnya secara perlahan. Sementara sarah, saking sukanya ia dengan roti buatan bibi margareth, ia sudah tak lagi menghiraukan pisau dan garpu. Ia langsung melahapnya dengan sebuah gigitan besar. Pak erik hanya tersenyum memperhatikan Sarah saat itu.
Setelah mereka berdua selesai, Sarahpun pergi mandi. Sementara pak Erik menunggu sarah menunnggu di ruang tengah sambil membaca koran pagi dengan ditemani segelas teh hangat.
Selesai Sarah mandi, iapun berkaca. “Pakaian apa yang cocok aku pakai sekarang?”. Sarah bertanya pada dirinya sendiri.
Ia memilah-milah pakaian di lemarinya. Setelah ia menemukan pakaian yang pas dan memakainya, iapun menghampiri ayahnya.
“Cantiknya puteriku ini”. Pak Erik memuji. Kemudian merekapun pergi ke taman kota yang tak jauh dari rumahnya dengan menggunakan mobil antik produk Amerika dan merekapun menghabiskan hari minggunya di sana.
Terik matahari terasa begitu menyengat dan menusuk kulit Sarah yang sedang berjalan menuju fakultas tempat ia kuliah. Ia kuliah disebuah universitas yang sangat popular di ibu kota dan ia sudah memasuki semester enam.
Belum sempat ia memasuki kelas,
“Sarah!”. Tiba-tiba sesorang memanggil namanya. Iapun menoleh ke belakang.
“Hei, kamu Mut.”. Wanita yang memanggilnya ternyata Mutia, teman satu kelas serta sahabat dekatnya. Sebagai catatan saja, di antara teman-teman Sarah yang lain, hanya Mutia yang mengetahui bahwa Sarah anak seorang konglomerat.
“Pagi banget dateng, nya? Tumben”. Tanya Mutia aneh
“Ia, nih. Aku punya tugas yang belum selesai. Kebetulan kamu dateng, bantuin aku ya, Mut?”. Sarah memohon.
“Yah, kamu kebiasaan banget sih”
“Plis….”. sarah memohon lagi. “Dosennyakan killer banget.
“Iya, iya. Buat anak konglomerat, apa sih yang nggak aku bantu?”. Muti meledek
“Iya, mulai deh bawa-bawa bokap”.
Sebenarnya Sarah anak yang sangat cerdas, terkadang ia tak perlu waktu terlalu lama untuk memahami materi pelajaran untuk ia mengerti. Hanya saja dia malas dan manja. Lalu merekapun masuk ke kelas yang masih sepi. Sarahpun mengerjakan tugasnya dengan mencontek dari Mutia. Selesai sarah mengerjakan tugasnya, tak lama para mahasiswa-mahasiswi muncul berdatangan masuk ke dalam kelas.
“Hai, sarah. Hai, Mutia”. Salah-satu mahasiswi menyapa
“Hai”
“Hai”. Sarah dan Mutia membalas berbarengan
Tak lama dosen masuk dan kelaspun berjalan seperti biasa.
Setelah beberapa jam, kelaspun bubar. Mahasiswa-mahasiswi berhamburan keluar tidak terkecuali Sarah dan Mutia. Mereka keluar dan berjalan menuju kantin.
Sambil menunggu mata kuliah ke-2 yng masih dua jam lagi, mereka menunggu dan beristirahat di sana. Banyak pula mahasiswa-mahasiswi yang lain di sana. Ada yang makan, minum, diskusi atau sekedar duduk-duduk santai sambil membaca buku.
Pada saat bersamaan mata Sarah tertuju pada satu pasangan mahasiswa-mahsiswi yang sedang duduk berduan. Mereka tampak akrab dan ceria. Hati Sarah sangat iri melihat pemandangan tersebut, terlihat jelas di matanya. “Coba Dominic ada di sini, pasti aku juga bisa seperti itu. Dimanja, aku kangen sama kamu, Dom”. Sarah berbicara sendiri dalam hatinya. Lalu,
“Woy!”. Mutia berteriak
“Mikirin apaan sih? Dari tadi bengong aja”.
“Hah, nggak Mut”. Sarah berbohong
“Keburu dingin tuh makanan”. Mutia berbicara dengan nada agak sedikit tinggi pada Sarah
“Keluar yuk?”. Sarah mengalihkan pembicaraan “Di sini bosen”.
“Ke mana?”. Muti bertanya
“Ke mana aja. Yuk, ah? Sarah memaksa
“Terserah, deh. Aku ikut aja”. Akhirnya merekapun pergi meninggalkan kantin sesaat setelah sarah makanan yang mereka pesan ke mbok Sum, penjaga kantin di sana.
Pukul empat sore ia tiba di gerbang rumah. Ia pulang dengan menaiki kendaraan umum kota. Meski ia manja dan tentunya kaya, ia lebih suka menggunakan kendaraan umum dari pada harus menggunakan fasilitas mewah milik ayahnya. Meski terkadang itu membahayakan dirinya. Maklum, anak konglomerat banyak sekali penjahat yang mengincarnya. Namun karena ia telah dibekali bela diri yang mempuni, jadi tidak ada preman-preman kacangan yang berani walau sekedar menatapnya.
“Ayah belum pulang, bi?”. Sarah bertanya pada bibi Margareth sambil membuka sepatu dan kaos kaki dan menaruhnya di rak.
“Belum tuan. Tapi bapak memberi pesan, katanya pulangnya agak malam. Tuan nyonya disuruh mentelepon bapak”.
“Huh,,, dasar ayah”. Sarah berbicara sendiri “Makasih, bi”
“Sama-sama tuan nyonya”.
Sarah masuk ke kamarnya, ia menaruh tasnya di ranjang. Sambil tiduran ia menelpon ayahnya
“”Yah?”. Sarah berbicara lewat telepon
Lalu merekapun berbicara lewat telepon sampai selesai.
Saat makan malam Sarah hanya makan sendiri. Ia merasa kesepian tanpa ayah yang menemaninya di ruangan yang sangat besar. Dan sepertinya pak Erik tidak pulang malam ini. Dalam kesendirian, ia melamunkan sesuatu. Ya, dia melamunkan Dominic. Dominic yang selalu bersamanya menjaga,serta melindunginya setiap waktu selama lima tahun terakhir.
Ketika sore hari dan mulai senja. Dominic mengajak Sarah pergi kesuatu tempat yang tak jauh dari keramaian kota. Ya, Dominic mengajaknya ke sebuah danau kecil. Di sana mereka menaiki perahu bebek-bebekkan yang terlihat lucu dan menggemaskan. Perahu tersebut mereka kayuh berdua. Terasa keheningan dan ketenangan seiring dengan kebersamaan mereka di atas perahu. Mereka saling menatap. Entah apa yang berada dalam kepala Dominic saat itu, tapi Sarah mengartikan lain. Di samping Dominic sarah selalu merasa nyaman dan bahagia “Andai kau tahu, Dom. Betapa berartinya dirimu bagiku”. Itu yang selalu Sarah gumamkan dalam hatinya. Dan di atas perahu yang tenang itu mereka membicarakan sesuatu
“Dom?”. Sarah memulai percakapan dengan nada pelan
“Iya, little lady”. Itu adalah sapaan Dominic pada Sarah
“Maukah kau berjanji padaku?”
“Apa maksudmu Sarah?”. Dominic keheranan, tiba-tiba Sarah berkata seperti itu
“Tunjukkan jari kelingkingmu?”. Sarah meminta. Lalu Dominic mengangkat tangannya dan menunjukkan kelingkingnya. Sarahpun menunjukkan kelingnynya. Akhirnya kedua kelingking mereka saling bertemu dan mengikat satu sama lain.
“Dom?”. Kembali Sarah bertanya
“Iya”
“ikuti kata-kataku”
“Baiklah”. Dominic menurut
“Aku berjanji”. Sarah mengawali, lalu kemudian Dominic mengikuti
“Aku berjanji, aku akan selalu menjagamu erta selalu di sampingmu”. Kata-kata itu mereka ucapkan bersama. Sarahpun tersenyum sendiri di meja makan mengingat saat-saat itu.
“Bi…!”. Sarah memanggil bibi margareth
“Iya, tuan nyonya”. Bibi Margareth menghampiri
“Kalau ayah pulang, bilang aku sudah makan duluan”
“Iya, tuan nyonya. Sekarang tuan nyonya mau ke mana?
“Aku ngantuk, bi. Aku mau tidur”. Sarahpun pergi ke kamarnya dan lekas tidur.
“Hoam…..”. pak Erik menguap sambil menutup mulut dengan tangannya. Sepertinya dia masih ngantuk, mengingat ia tidur larut. Pukul tiga pagi ia baru sampai di rumah, sementara ia tidak boleh telat bangun paginya nanti. Sungguh rutinitas yang cukup berat. Tapi itu semua ia lakukan demi anaknya Sarah.
Seperti biasa sebelum memulai aktivitas. Ia selalu membaca Koran pagi langganannya dengan ditemani segelas teh hangat khas buatan bibi margareth.
Ia duduk di meja yang berada di ruang tengah, lalu ia ambil Koran yang tergeletak di atas meja. Dengan seksama ia membaca. Belum sempat ia membuka lembaran ke-dua, pak Erik kaget. Dia ternganga dan matanya terpejat saat membaca head-line dari Koran yang ia baca. Dalam Koran tersebut tertuliskan “Antonini, teroris berbahaya yang sekitar lima tahun lalu hendak membunuh preseiden Amerika Barack Obama dan mendekam di Nusa Kambangan, melarikan diri”.
“kring-kring”. Tak lama terdengar suara telepon berdering. Bibi Margareth mengangkat
“Tuan, ini untuk tuan?”. Pak Erik menganggukkan kepala lalu menerima teleponnya sendiri.
“ya.”. Pak Erik menjawab seseorang dalam telepon
“Apa anda Pak Erik?”. Seseorang dalam telepon bertanya untuk memastikan
“Iya, saya sendiri”
“Saya Anton dari Satuan Keamanan Khusus Nasional(SKKN) bagian teroris”.
“Ya”
“Apa pak Erik sudah membaca Koran pagi ini?”
“Ya. Apa itu benar?”.
“Itu benar”
“Apa yang harus saya lakukan?”. Tanya pak Erik cemas
“Jangan panik. Saya bersama tim saya akan menyelesaikan ini segera”?
“Lalu, apa yang harus saya katakan pada Sarah?”. Pak Erik tambah cemas, tampak jelas terlihat dari matanya.
“jangan katakan apapun padanya untuk saat ini. Di mana dia sekarang?”
“Dia sedang tidur di kamarnya”.
“Bagus. Dan sebaiknya jangan biarkan ia terlalu sering keluar. Carilah bodyguard untuk menjaganya. Tapi ingat. Jangan sampai ia curiga”. Seru pak Anton
Di saat bersamaan Sarah baru saja bangun dari tidurnya yang nyenyak. Karena merasa lapar, iapun pergi menuju dapur.”
“Pagi, sayang”. Pak Erik mengalihkan pembicaraan teleponnya dan menyapa Sarah yang berjalan melewatinya.
“Pagi, ayah”. Sarah membalas sambil menguap
“Saya rasa hanya itu yang dapat saya sampaikan sekarang. Selamat pagi”.
“Selamat pagi”.
Sesaat setelah pak Erik menutup telepon, ia langsung mengambil serta membereskan semua Koran yang ada di atas meja dan menyuruh bibi margareth untuk membakarnya di belakang.
Sarah duduk di kursi meja makan sambil menikmati segelas besar air susu yang ia ambil dari lemari pendingin.
“Jangan katakan apapun pada Sarah”. Pak Erik berbisik pada bibi Margareth. Sementara bibi Margareth hanya menanggukan kepala. Lalu pak Erik menghampiri Sarah dan mencium keningnya
“Tidur nyenyak tuan puteri kecil ayah?”. Pak Erik memulai percakapan dengan maksud menenangkan hatinya sendiri.
“Iya. Siapa tadi yang berbicara dengan ayah ditelepon?”.
“Hmm….”. pak Erik terbata “Teman lama, dari SMA”. Pak Erik beralasan
“Oh”.
Akhirnya mereka berdua sarapan.
Selang satu jam disebuah kantor media cetak ternama Jakarta, pak Anton orang bertanggung-jawab atas kasus ini, berjalan tergesa-gesa bersama dua rekannya. Mereka berjalan menuju resepsionis
“Di lantai berapa bosmu berada?”. Pak Anton bertanya kepada petugas resepsionis wanita
“Maksud bapak, pak Karno?”
“Iya. Di mana dia?”
“Di lantai lima”. Pak Anton langsung menuju lift tanpa basa-basi diikuti dua rekannya
“Pak, maaf. Jika bapak hendak bertemu dengan bos, bapak hendak membuat janji terlebih dahulu”. Resepsionis itu berteriak. Sementara pak Anton tak menghiraukan. Di dalam lift Anton memperhatikan nomer-nomer lantai yang terlihat di hadapannya.
“Ting….”. lift telah terbuka, pak Anton telah sampai di lantai lima. Mata dia langsung mengarah pada satu ruangan di lantai tersebut.
“Pak, apa yang anda lakukan di sini?”. Tanya salah-satu pegawai yang ada di sana. Lagi-lagi Anton menghiraukan dan terus saja melangkah.
“Pak, ini lantai khusus karyawan”. Mendapati Anton yang tak mau mendengarkan, para kayawan di lantai lima tersebut sontak marah, lalu menjegalnya sebelum ia masuk ke ruangan pak Karno.
“Pak, anda siapa? Sebaiknya anda pergi!”. Pak Anton memaksa, kemudian para karyawan yang berjumlah tujuh orang lebih terus menahannya. Akhirnya terjadi kegaduhan di sana.
Disaat dua kubu saling menghadang dan bersi keras, spontan pak Anton mengeluarkan pistol yang ia simpan di balik jasnya. Para karyawan yang menghadang pak Anton dan dua rekannyapun langsung diam tak bergeming. Kemudian Pak Anton dan dua rekannya masuk ke ruangan Karno.
“Hei. Selamat pagi tuan-tuan. Ada yang bisa saya bantu?”. Sapa pak Karno kaget kedatangan tiga pria dengan setelan kemeja putih rapih, dengan jas, celana dan dasi yang serba putih serta membawa pistol.
“Apa kau yang bertanggung jawab di sini?”. Tanya pak Anton
“Iya, saya”.
“Apa ini?”. Pak Anton melempar surat kabar kepada Karno
“Ini Koran saya. Tentu saja”.
“Baca headline-nya?”.
Karno membaca sejenak.
“Lalu?”. Karno menjawab dengan nada tengil
“Apa kau tahu dengan apa yang telah kau lakukan?”. Pak Anton menaikan nada bicaranya. Sementara para karyawan melihat dari sela-sela jendela.
“Tentu saja. Aku menjual berita, dan aku mendapatkan uang dari beritaku”.
“Dan beritamu membuat resah masyarakat, hah!”. Pak Anton semakin naik pitam
“Aku tahu. Dan aku tidak peduli. Yang aku tahu, semakin banyak orang yang resah dengan beritaku, semakin banyak pula pelanggan yang penasaran dan membeli koranku. Dan itu artinya, keuntungan besar bagiku”. Lagi-lagi Karno menjawab dengan nada tengil
“Dasar kapitalisme”. Pak Anton geram
“Sebaiknya kau sadar dengn apa yang telah kau lakukan”. Anton berbicara sambil mengarahkan telunjuknya ke mujka Karno. Sementara Karno hanya tersenyum tengil.
“Ayo kita pergi!”. Akhirnya Anton dan dua rekannya pergi meninggalkan kantor tersebut.
Pak Anton bersama timnya bekerja dengan keras untuk menyelesaikan kasus ini dan sangat menguras tenaga. Perlahan ia telusuri, mulai dari tempat terakhir Antonini ditangkap, sampai bagaimana dulu Antonini bisa masuk ke Indonesia. Dalam kasus ini, Anton dibantu oleh Johni. Dalam cerita sebelumnya Johni adalah seorang pengasuh yang selalu menjaga Sarah serta ikut serta dalam penangkapan Antonini. Singkatnya, Johni dipinta langsung oleh pak Anton dalam menyelesaikan kasus sekarang.
“Kring, kring, kring,,,”. Terdengar nada telepon berdering.
“Bu, maaf saya mau keluar, ayah saya menelepon?”. Sarah meminta izin kepada dosen untuk mengangkat telepon dari ayahnya.
“Hallo”. Sarah mengawali percakapan
“Sarah!”
“Iya, ayah. Aku lagi di kelas. Ada apa sih, yah?”
“Ayah punya kejutan di rumah, coba kamu tebak apa?”
“Apa? Aku lagi males tebak-tebakkan, yah”
“Ok, dah little sweety. Tapi seusai kuliah, kamu jangan ke mana-mana, pokoknya langsung pulang, ok!”
“Iya, ayah”
“Bagus. I love you little sweety”.
“Iya,,, love you too, ayah”. Sarah menutup telepon dan kembali masuk kelas.
Seusai kuliah, Sarah langsung pulang. Ajakan Mutiapun ia hiraukan mengingat pesan dari ayahnya. Selain dari pada itu, ia penasaran dengan kejutan yang dikatakan ayahnya lewat telepon tadi.
Tak lama Sarah sampai di rumahnya.
“Sudah pulang, tuan nyonya?”.
“Iya, bi. Kata ayah aku disuruh pulang cepet-cepet. Ayah sudah pulang, bi?”
“Sudah tuan nyonya. Tuan besar bilang, katanya tuan nyonya ditunggu di dalam kalau sudah datang”. Sarahpun masuk. Tapi ia tak melihat apapun dari kejutan yang dikatakan oleh ayahnya tadi ditetepon. Tak lama pak Erik muncul dari dalam kamar
“Hei, nak”
“Hei, juga. Kata ayah ada kejutan, kok aku tidak melihat apa-apa, yah”.
“Tenang dong Sarah. Tunggu sampai ayah bilang kata magisnya”
“ini pasti keren ya, yah?”
“Tentu saja”.
“Terus apa kata magisnya?”
“Kata magisnya adalah,,,,,, kejutan”. Lalu munculah seseorang dari kamar apak Erik. Sarahpun terkejut melihat seseorang yang keluar dari kamar tersebut, ia nampak senang namun ia menahan dirinya untuk tidak terlihat senang sehingga terkesan biasa-biasa saja. Padahal, jika dapat dilihat jauh ke dalam hatinya, saat itu itu ia seperti melompat-lompat karena saking senangnya atas kejutan tersebut. Karena seseorang tersebut adalah sosok yang ia kagumi dan ia bangga-banggakan. Selain dari pada itu, ia sedikit menaruh rasa simpati padanya. Serta ditambah kerinduan setelah sekian lama tak bertemu. Dan sosok tersebut adalah Dominic. Namun ternyata kejutan sang ayah tidak hanya Dominic, karena selang setelah Dominic muncul, munculah satu sosok lagi, dia sosok perempuan cantik, berambut pirang, lalu kemudian tangan mereka saling menggenggam. Sontak keadan tersebut membuat Sarah gusar dan kesal. Keadaanpun berubah. Hati sarah yang tadinya senang karena mendapat kejutan spesial dari sang ayah berubah menjadi kekhawatiran yang berbeda. Ia merasa, ternyata orang yang selama ini ia tunggu-tunggu tidak sesuai dengan harapan. Pikirannya buyar. Rasa kangen setelah bertahun-tahun tidak bertemu berubah menjadi kebencian. Iapun menaggapinya dengan dingin. Kemudian iapun langsung pergi masuk ke kamarnya tanpa berkata apa-apa. Sementara pak Erik kebingungan melihat Sarah yang tiba-tiba pergi.
“Ada apa dengan dia?”.pak Erik bertanya pada Dominic yang tidak tahu apa-apa. Sementara Dominic hanya mengernyitkan dahi dan menaikan kedua pundak dan tangannya.
“Kalian nikmati saja suasana di sini. Aku akan menyusul Sarah ke kamarnya”.
“Ok, bos”. Sahut Dominic
Pak Erikpun bergegas pergi menyusul Sarah ke kamarnya. “Dasar remaja, kadang masalah mereka terlalu rumlit untuk dimengerti dan membuatku pusing”. Pak Ering mengerutu sambil berjalan menuju kamar Sarah.
“Sayang, ada apa denganmu. Tak sepertinya kamu seperti ini, nak?”.
“Aku nggak apa-apa, ayah”. Sarah beralasan sambil berpura-pura membereskan buku yang tidak berantakan, hanya untuk mengalihkan perhatian ayahnya saja dan menyeka matanya.
“Ayah pikir kamu senang Dominic datang”
“Aku memang senang dia datang ayah”. Sarah menampakan wajah tersenyum dihadapan ayahnya walau terkesan memaksa.
“Ok, ayah rasa nggak ada masalah, ya?”
“Iya, ayah”.
“Ayah keluar, ke depan dulu”.
“Iya”.
Pak Erik lalu lekas kembali menemui Dominic yang sedang berbincang dengan kekasihnya di ruang tengah.
“Dia baik-baik saja, bos?”. Dominic bertanya kepada pak Erik
“Dia baik-baik saja. Sebaiknya kalian berdua istirahat, bibi Margareth sudah menyiapkan kamar untuk kalian”.
“Ok, bos”.
Pukul 08.15 am di Kantor Keamanan Nasional.
“Pak!”. Seseorang mengetuk pintu dan terlihat dari dalam oleh pak Anton karena pintu terbuat dari kaca. Pak Anton melambaikan tangannya, tanda agar orang tersebut masuk. Kemudian seseorang itu masuk sambil memegang sebuah amplop besar berwarna cokelat di tangan kanannya dan ternyata seseorang tersebut adalah Juan, salah satu dari anggota pak Anton yang ditugaskan dalam kasus ini.
“Ada apa?”. Pak Anton memulai percakapan
“Pak sepertinya ini penting”. Juan menyerahkan amplop tersebut kepada pak Anton.
“Apa ini?”
“Silahkan dibuka saja, pak”. Pak anton membuka amplop tersebut dan mendapati beberapa potret gambar, ia melihat satu-persatu dari gambar tersebut.
“Dari mana kau mendapatkan gambar ini?”.
“Salah-satu informan kita, pak”.
“Kau tahu lokasi yang ada pada gambar ini, Juan?”.
“tentu saja, pak. Tempat itu ada di pusat kota”.
“Siapkan mobil. Kita ke sana”.
“Sekarang, pak?”
“Iya”
“Kau siap, Juan?”.
“tentu saja, bos”.
Merekapun langsung meluncur menuju tempat yang tertera digambar tersebut. Di saat bersamaan Sarah sedang berada di tempat yang sedang pak Erik dan Juan tuju. Ia tidak masuk kuliah hari itu, karena masih kesal pada dirinya sendiri dan masalah Dominic kemarin. Ia duduk sendiri di kedai tersebut. Sambil memegang secangkir teh hangat dan kue kering yang ia pesan, ia memandangi ke arah jendela yang tembus ke jalan raya. Saat ia memandangi mobil-mobil yang terlihat dari arah jendela, tiba-tiba seseorang muncul. Seorang perempuan,kira-kira berumur empal puluh lebih.
“Tempat ini kosong?”. Perempuam tersebut bertanya
“Iya”
“Boleh saya duduk di sini?”
Tentu saja, silahkan. Ini memang tempat umum”. Sarah menjawab dengan nada tidak senang. Sarah meleguk tehnya lalu kembali memandangi ke arah jendela yang mengarah ke jalan tadi. Keadaan saat itu tampak canggung, sementara perempuan yang menghampiri Sarah sepertinya tidak mau diam dan Sarah tampak tidak suka dengan keadaan itu.
“Nama saya Lia. Camellia”.
“Ehem,,,” Sarah kaget karena tiba-tiba perempuan tersebut mengenalkan diri. Seolah tak mendengar apa-apa, iapun tidak menghiraukannya. Tapi karena merasa tidak enak, iapun menaggapi perempuan tersebut
“Sarah. Nama saya Sarah”.
“Sepertinya anda sedang memikirkan sesuatu anak muda. Apa aku benar?”
Sejenak sarah memandangi muka Camelia, lalu membuang mukanya
“Saya tidak sedang memikirkan apa-apa dan saya baik-baik saja. Tolong jangan ganggu saya”. Kembali Sarah ke arah jendela.
“Saya hanya bertanya. Pelayan!”. Camellia menaggil pelayan. Lalu ia membayar secangkir kopi yang ia pesan tak lupa dengan tipnya.
“Sarah. Nama anda Sarahkan? Saya tahu ini memang terdengar aneh dan kita memang tidak saling kenal, tapi saya merasa kita ada, emm,,,,”. Camellia berpiki berpikir sejenak “Keterkaitan. Jadi, saya menyerahkan kartu nama saya, saya taruh di atas meja. Jika nak Sarah butuh ketenangan, silahkan hubungi saya, atau langsung saja datang ke rumah saya”. Camellia mengedipkan matanya lalu pergi. Sementara Sarah merasa aneh dengan keadaan pada saat itu. Setelah membayar kepada pelayan, kemudian Sarahpun lekas berdiri. Sejenak ia memandangi kartu nama yang yang tergeletak dia tas meja tadi. Akhirnya kartu nama itu ia ambil dan iapun lekas pegi dari kedai tersebut.
Selang beberapa saat setelah sarah pergi, munculah Antonini dan rekannya Juan di kedai itu.
Bersambung ……………………….
Pukul 05.15 am. Di sebuah gedung tua dan besar jauh di di pinggir kota Bogor. Gedung tersebut sudah lama ditinggalkan, terlihat dari besi-besinya yang sudah berkarat serta genangan air yang terlihat di mana-mana karena atap gedung yang tak terurus dan bocor. Tempat tersebut sangat sepi, cukup gelap dan basah.
Terlihat seorang lelaki yang lumayan besar dan berotot, serta memakai seragam seperti militer duduk di depan pintu di dalam gedung tersebut. Ia tampak begitu cemas dan terus saja memandangi pintu yang berada tepat di hadapannya. Sesekali Ia memandangi langit-langit yang bocor dan cahaya matahari masuk di sela-sela itu. Sepertinya ia sedang menunggu sesuatu atau sesorang.
“Clek, clek, clek”. Terdengar suara langkah kaki yang menginjak genangan air.
Lelaki tersebut bersiaga, ia mengambil sepucuk senjata di saku pinggangnya lalu ia todongkan ke arah pintu. Tak lama suara langkah kaki itu berhenti. Sementara pandanganya terus saja mengarah pintu dengan pistolnya tadi. Lalu,
“Krek…”. Gagang pintu memutar dan pintupun terbuka
“Wom, wow, wow”. Seorang pria di balik pintu itu berteriak pelan sambil mengangkat kedua belah tangannya tengil. “Tenang. Ini aku, Antonini. Sahabat lama dari balik jeruji. Dan kau adalah sahabat terbaikku di luar jeruji”. Ia mengedipkan mata.
“Apa kau sendiri?”. Tanya lelaki itu kepada Antonini berkeringat
“Iya, tentu saja. Aku hanya membawa dua tema. ? dan ?”. Antonini menjawab
“Apa kau yakin?”
“Ya. Ada apa? Apa kau takut? Bukankah kau orang yang paling ditakuti di dalam sana, benarkan Tuan Sipir?”. Antonini menakut-nakuti.
“Jangan kau sebut nama itu di sini, hah!”. Lelaki itu mengancam.
“Wow, apa kau mengancamku? Lihat pak sipir mengancamku di sini”. Antonini dan dua temannya tertawa.
“di mana uangnya?”. Lelaki itu menagih uang yang telah dijanjikan Antonini. Namun Antonini dan dua temannya masih belum berhenti tertawa. “Di mana uangku!”. Pria itu berteriak di muka Antonini. Sontak hal itu membuat Antonini kaget, sementara dua temannya langsung menodongkan pistol pada pria itu.
Antonini mengangkat tangan kanannya, ia ambil kerah pria itu dan mencekiknya keras, lalu memojokannya ke pintu. Sementara tangan kirinya menodongkan pistol tepat di dahinya.
“Jika kau berteriak seperti itu di depan anak buahku sekali lagi, aku tidak akan berpikir dua kali untuk membunuhmu dengan pistolku”. Antonini berbisik marah. “Tenang kawan, semua baik-baik saja. Tenangkan diri kalian dan turunkan senjata kalian. Di antara kami tidak ada masalah.”. Antonini tengil. “Tuan ini hanya menagih apa yang seharusnya ia dapatkan, dan ia memang layak mendapatkannya. Lagi pula, kami memiliki hubungan teman yang sangat baik, benarkan teman?”. Lagi-lagi Antonini bertingkah tengil. “? Berikan uangnya?”.
“Baik, bos”. ? Melempar uangnya tepat di hadapan lelaki itu.
“Ini uang yang aku janjikan padamu. Sekarang kau bebas pergi”. Tanpa basa-basi, lelaki itu langsung mengambil uang tersbut dan pergi.
“Lihatlah, betapa menyedihkannya orang-orang seperti dia”
“Kenapa, bos?”
“Hanya diberi beberapa lembar Rupiah saja, ia langsung berkhianat pada negaranya”.
“Apa perlu aku membunuhnya, bos?”
“Tidak perlu. Aku lebih suka ia ditangkap dan dihukum oleh temannya sendiri, kemudian dibenci oleh semua orang karena telah berhianat. Betapa meyedihkannya dia. Hahaha”. Antonini tertawa. Dan kedua temannyapun ikut tertawa
“Hahaha …………..”. Mereka tertawa.
*******************************
“Hai, Ti”.
“Hai”. Mutia membalas sapaan teman yang berpapasan dengannya. Ia berjalan tergesa-gesa di koridor fakultas di kampusnya. Tanpa memperhatikan mahasiswa-mahasiswi yang berada di sampingnya, ia terus saja berjalan.
“Mau ke mana, Ti?”.
“Aku mau ke ……………. Hei, Sarah. Kamu ternyata”. Mutia kaget.
“Iya, aku. Siapa lagi teman kamu satu-satunya yang paling cantik”.
“Hmm, mulai deh”.
“Emang bener kan?”. Mutia menggelengkan kepala “Ngomong-ngomong, mau ke mana, Ti?”.
“Nggak. Nggak jadi”.
“Kok gitu sih, Ti?”
“Orang kamunya udah di sini”
“Oh, jadi tadi nyari aku toh. Kangen yah? Hehe”. Sarah tersenyum manis
“Iyah. Terserah deh tuan puteri”.
“Ke kantin, yuk?”. Sarah mengajak
“Ngapain?”
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Ti”.
“Loh, kok jadi dia sih yang ngajak duluan. Padahal, dari tadi aku sibuk nyariin dia. Soalnya, aku juga ada hal yang mau diomongin sama dia. Yaudah deh aku turutin”. Mutia berbicara dalam hati.
“Gimana, Ti?”. Mutia menganggukan kepala tanda setuju. Merekapun pergi ke kantin.
Setelah memilih bangku yang kosong dan memesan dua gelas jus jeruk, mereka berduapun duduk.
“Jadi?”. Mutia memulai percakapan, penasaran.
“Hmmm, gimana ya cara mulainya?”
“Terserah”
“Besok, aku mau pergi kesuatu tempat?”
“Ke mana?”
“Aku bilang suatu tempat”
“Boleh aku ikut Sarah?”
“Nggak. Aku Cuma sendiri ke sana”
“Oke, aku ngerti. Selain aku, apa ada orang lain yang kamu beri tahu?”
“Nggak ada”
“Ada hal lain lagi yang mau kamu sampaikan, Sarah?”
“Hmmm, oh ya. Kalau dalam tiga hari nanti aku belum pulang, tolong kamu hubungi nomor ini”. Sarah menunjukan nomor hp di kontaknya
“Johni? Siapa pria ini? Apa ini yang membuat sikap Sarah akhir-akhir ini menjadi aneh?”. Mutia berbisik sendiri. Mendapati keadaan yang sepert itu, Mutiapun mengurungkan niatnya untuk menanyakan sesuatu pada sarah. Justru ia dapat menyimpulkan sesuatu dari apa yang disampaikan Sarah. Apalagi sosok Johni yang disinggung Sarah. “Perasaan, selama aku berteman dengan dia, belum pernah aku mengenal sosok Johni. Pria ini, siapakah dia? Apakah dia……? Ah tidak mungkin. Tapi kalau memang benar, pasti dia benar-benar sangat hebat. Karena bisa membuat Sarah menjadi seperti ini. Karena setahuku, sarah sangat sulit menerima seorang pria di hatinya. Meski banyak sekali pria yang menaruh hati padanya”.
Pagi yang indah di kota yang penuh dengan asap. Seperti biasa hari senin pagi di kota Jakarta, tak terbayangkan. Jalanan macet di mana-mana. Belum lagi suara bising knalpot terdengar bersahutan seperti suara jangkrik di pedesaan diwaktu sore, hanya saja terdengar sangat keras dan terasa sakit dikuping . Asap knalpot membuat polusi, memambah sesak penghuni kota yang semakin hari semakin padat. Sementara di sisi yang lain pak Anton sedang sibuk membaca koran di kedai kopi dekat kantornya bekerja. Ditemani sepotong roti isi selai kacang has beraroma. Walaupun begitu, ia tampak serius sekali membaca koran pagi. Karena sekalipun, ia tak pernah melewatkan koran pagi. Baginya, koran pagi merupakan petunjuk sebelum ia melakukan aktivitas nantinya. Benar saja, terlihat ia sudah mendapatkan petunjuk untuk aktivitasnya hari ini.
“Sepertinya, aku harus mengunjungi suatu tempat hari ini. Ya, aku harus”. Iapun mengambil handphone di sakunya dan mencoba menghubungi seseorang.
“Hallo. Johni, di mana kamu sekarang? Bisa ikut denganku hari ini? Bagus. Aku tunggu di tempat biasa”.
Setelah berbicara dengan Johni lewat telepon, iapun pergi dan menaruh uang tip di meja di kedai tersebut.
Di rumah pak Erik. Tampak Sarah sedang memilah-milah baju yang akan ia bawa, sepertinya ia akan pergi hari ini. Namun, tak banyak baju yang ia kemas. Karena takut ayahnya curiga, ia hanya mengemas beberapa kaos, satu baju hangat dan pakaian dalam. Sementara celana hanya yang ia pakai saja. Ia menatap cermin cemas. Namun tekadnya sudah bulat. “Lagi pula aku pergi bukan untuk senang-senang, dan itupun hanya beberapa hari”. Sarah bicara sendiri dalam hati sambil menatap cermin. Sejenak ia memikirkan tentang Dominic, “Aku tak peduli lagi dengan dia”. Umpat Sarah sambil mengambil tas dan iapun keluar dari kamarnya.
“Bi?”. Sarah memanggil bibi Margareth
“Iya, tuan”
“Ayah mana?”
“Tuan besar sudah berangkat kerja, tuan. Ada apa?”
“Nggak, bi. Aku berangkat, bi”
“Silahkan, tuan”.
Sarahpun pergi sambil menggendong tas yang berisi penuh dengan pakaian. Namun ke mana sebenarnya ia akan pergi? Entahlah.
“Mau ke mana kita, bos?”. Johni penasaran
“suatu tempat”
“tepatnya?”
“yang pasti tempat itu belum pernah kamu kunjungi sebelumnya”. Pak Anton menambah bingung Johni.
“Okelah. Aku ikut saja”. Merekapun meluncur pergi menuju tempat yang dimaksud dengan mobil mewah jenis sedan berwarna hitam milik pak Anton. Namun, selama dalam mobil Johni penasaran, ia bertanya-tanya, ke mana sebenarnya pak Anton akan membawanya. Pantatnya sampai tak bisa diam memikirkan hal tersebut sepanjang perjalanan. Namun seiring dengan perjalanan yang cukup lama, akhirnya Johnipun terlelap tidur. Bahkan ia tak menyadari, bahwa mobilnya melewati lautan dengan menaiki kapal agar sampai di tempat tujuan. Tak lama merekapun sampai di tempat tujuan. Mendapati Johni yang masih tertidur, pak Anton bergegas membangunkannya dengan menyentuh bahunya.
“John. Bangun! Kita sudah sampai”
“Hmmm”. Johni membuka matanya yang sayu. “Di mana kita, bos?”.
“Lihat saja keluar”. Pak Anton membukaan pintu
“Wow. Apa ini pemikiran kita sama saat ini, bos?”. Johni terkejut, karena tempat yang dimaksudkan pak Anton adalah Nusa kambangan. Ia pernah bercerita, bahwa salah satu dari cita-citanya ialah masuk dan melihat-lihat bagaimana isi dari penjara paling terkenal di Indonesia ini, dan tanpa harus melakukan tindakan kriminal, dan mimpi itu terwujud. Tak terbayangkan memang.
“Iya. Kau benar, pemikiran kita sama. Dan kau benar”.
“Wow”. Sekali lagi Johni meluapkan kegembiraanya “Terimakasih, bos”. Antonini menjabat tangan pak Anton kegirangan.
“Sama-sama. Sekarang kau tunggu di sini, aku ada urusan di dalam”
“Baik, bos”. Johnipun menunggu pak Anton sambil menatap pemandangan yang ada di sana. Padahal yang terlihat hanya terali besi, kawat dan penjaga penjara atau sipir, tak ada yang indah. Tapi, bagi dia itu merupakan pemandangan terindah yang pernah ia lihat selama hidupnya.
Tak lama, kira-kira setelah setengah jam, pak Anton muncul. Merekapun pergi dari tempat itu. Sementara Johni membawa hati yang sangat bahagia, ia tak sabar untuk menceritakan hal yang terjadi hari ini pada semua orang ia kenal, terutama neneknya.
Kamis, pukul 9.30 WIB. Pak Erik menyuruh pak Anton datang ke rumahnya karena ada hal penting. Anton membawa serta Johni ke sana
“Hei, John”. Pak Erik menyapa. Tampak terjadi reuni kecil di sana
“Hei, bos”.
“Lama sekali tak jumpa”. Pak Erik mengedipkan mata.
Kemudian mereka berempat, yaitu pak Erik, Dominic, pak Anton dan Johni duduk bersama di ruang khusus di rumah pak Erik.
“Jadi, apa yang akan kita bicarakan hari ini, pak? Dan, di mana Sarah? Sejak datang, aku tak melihatnya di sini?”. Pak Anton bertanya.
“Itulah yang akan kita bicarakan sekarang”. Pak Anton menggelengkan kepala. “Dom, ceritakan padanya”.
“Sarah, dia sudah dua hari dia tidak pulang”. Dominic menjelaskan
“Saya pikir kau menjaganya, bung”. Cibir Anton. “Apa dia sering melakukan hal seperti ini sebelumnya?”. Anton bertanya.
“Belum pernah. Dan jangan tanyakan apakah saya telah menghubungi mobile phone-nya. Saya ayahnya”. Sahut pak Erik keras.
“Jadi?”. Pak Anton bertanya lagi
“Dia menghilang”.
“Dom, apa yang kau lakukan di sini? Aku pikir dia akan aman bersamamu”.
Dominic merasa bersalah atas kebodohannya karena melewatkan Sarah, sehingga ia bisa pergi tanpa diketahuinya dan membuat pak Erik khawatir. “Sial! Kenapa aku bisa melakukan hal bodoh ini. Payah!”. Dominic memaki dirinya sendiri dalam hati. Sementara itu Johni memperhatikan ketiganya serius.
“Sekarang kita coba tenang, berita ini jangan sampai terekspos oleh media. Karena kita belum tahu pasti dia di mana, apakah dia benar-benar diculik atau menginap di rumah temannya”. Jelas pak Anton tenang.
“Kenapa kau bisa seyakin itu?”. Ujar pak Erik tak percaya.
“Ada dua kemungkinan. Pertama, jika Sarah memang benar diculik, pak Anton pasti sudah menerima panggilan dari orang tak dikenal dan pasti mengancam. Kedua, pak Erik pasti belum mengecek semua teman dia, benarkan?”.
“Ya, kau benar”. Sahut pak Erik sedikit lega
“Satu hal lagi, Jangan sampai situasi seperti ini terdengar oleh orang yang tidak bertanggug jawab dan mengambil kesempatan serta memanfaatkannya untuk hal yang buruk. Pak Erik pasti mengerti dengan ucapan saya”.
“Ya, saya mengerti”.
Akhirnya pertemuan itupun selesai. Pak Anton dan Johnipun lekas pergi untuk mencari petunjuk lain mengenai keberadaan Sarah dan tentunya Antonini. Sementara Dominic tertunduk lesu. Ia sama sekali tak beranjak dari kursi yang ia duduki se-dari tadi. Mendapati temannya seperti itu, pak Erikpun menghampiri
“Dom, this is not your fals. Everything can happen here. You were help her. And you are her hero. And always be. So, if you care about her, lets find here, save her togethere, again”.
“Ini bukan salahmu, Dom. Semua bisa terjadi di sini. Kau pernah menyelamatkannya. Dan bagi dia, kau adalah pahlawannya. Dan akan selalu begitu. Jadi, jika kau sayang dan peduli padanya, mari kita bersama-sama temukan dia, selamatkan dia, lagi”.
Setelah mendengar kata-kata itu, Dominic tampak semangat. Namun masih tampak jelas pada dirinya, raut wajah penyesalan diri, karena tak becus menjaga tanggung jawab yang telah diberikan padanya.
Tak jauh jauh dari hiruk-pikuk dan ramainya kota. Tak jauh memang tempat itu, tapi jika dibandingkan dengan suasana di pusat kota, tempat itu terasa nyaman dan cukup menyejukan. Terlihat satu rumah dengan nuansa klasik yang terbuat dari kayu dan genteng merah has rumah Jakarta tempo dulu. Di teras rumah ada empat kursi yang saling berhadapan dan satu meja dan satu tempat duduk lain yang terbuat dari rebahan kayu, dan orang dulu menyebutnya “bale”. Beberapa pohonpun menghiasi halaman depan rumah itu. Dan, seorang gadis keluar dari balik pintu dari rumah itu, lalu ia duduk di kursi tadi. Sepertinya gadis itu tampak tak asing. Ya, memang gadis itu tak asing, dan gadis itu ialah Sarah. Sedang apa ia di sana? Dan, rumah siapa itu? Lalu tak lama setelah ia, muncul pula satu wanita lagi namun agak tua, terlihat dari rambutnya yang sedikit beruban dan pakaian yang ia pakai. Mereka bercakap-cakap sambil menikmati secangkir teh hangat yang mereka petik sendiri di kebun belakang rumah. Dan mereka sangat akrab sekali.
Setelah cukup lama mereka berakap-cakap, wanita tua itupun masuk. Sementara Sarah masi tak beranjak dari tempat duduknya, menikmati keheningan yang ada yang tak ia nikmati jika di rumahnya sendiri di pusat kota.

“Bos. Apa kau sudah mendapatkan ide?”. Satu anak buah Antonini, Pazini bertanya
“Belum.”
“Kenapa lama sekali, bos?”.
“Apa kau meragukan kemampuanku, hah?”. Antonini berkelit
“Aku punya sebuah ide, bos. Dan, sepertinya ini akan berhasil”. Satu anak buah Antonini lagi, Andra menawarkan”
“What the hell is that?”. Antonini menjawab dengan bahasa inggris namun dengan aksen Itali.
“Bagaimana kita buat sebuah ancaman lewat sebuah video, dan kita unggah di You-tube, bagaimana?”
“Pazini?”. Antonini melirik
“Aku pikir itu ide yang bagus. Maaf, maksudku brilian”. Pazini tersenyum tengil
“Yeah. Aku pikir juga begitu.”.
“Dan lihat ekspresi mereka, bos. Kekhawatiran, cemas, saling mencurigai, dan “. Andra berhenti” keyos”. Andra berbisik keras
“Hehehe…..”. Antonini tertawa pelan
“Bukankah itu keren, bos?”
“Hahaha….”. Antonini menarik suara tertawa dan diikuti oleh Andra dan Pazini
“Hahaha..”. merekapun tertawa lepas.
Empat hari sudah Sarah tak pulang. Selama hidupnya, Sarah tak pernah membuat ayahnya khawatir. Terakhir kali Sarah membuat ayahnya, sekitar lima tahun lalu. Namun sekarang ia lebih takut, karena ia tahu bahwa pasti Antonini akan lebih kejam dan sadis, jika mengingat kejadian lima tahun yang lalu itu. Dan dalam semua kerjaan yang menumpuk, pak Erik terus saja menatap bingkai foto Sarah berukuran sedang yang ia pajang di meja kerja di kantornya. Iapun melamunkan saat-saat yang lalu, yaitu saat menyenangkan bersama puteri kesayangannya. Tidak ada kekhawatiran, rasa cemas, penjahat dan Antonini. Ya, Antonini. “Pria bangsat ini yang membuat keluarga kecilku menjadi tak nyaman. Sial!”. Pak Erik mengumpat dan berteriak sendiri.
Pukul lima lebih lima menit di Jum’at pagi yang dingin. Jalanan kota masih terlihat sepi dan lengang, hanya beberapa kendaraan saja yang melintas. Beberapa lampu kotapun masih terliha menyala. Dominic pergi ditemani dinginnya pagi. Ia pergi menuju tempat di mana Sarah berada. Ia mengetahui keberadaan Sarah dari Johni melalui ponsel tadi. Iapun tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada dan segera pergi dan berharap perkataan Johni benar dan Sarapun masih di sana. Dengan mengendarai motor besar merek Dukati berwarna hitam milik pak Erik, iapun sampai di tempat yang ia tuju.
Ia pun turun dari motornya setelah memarkirkannya di depan rumah yang menurut laporan dari Johni adalah rumah di mana tempat Sarah tinggal selama empat hari terakhir ini. Dengan langkah yang sedikit ragu, ia mengetuk pintu. Dan rumah itu terasa dingin dan tampak sepi.
“Tok, tok, tok”. Dominic mengetuk pintu. Namun tak seorangpun membalas. Sekilas ia memikirkan bahwa Johni ingin menipunya. Ia menyangka bahwa Johni ingin aku terlihat bodoh di hadapan pak Erik dan juga Anton. “Permisi. Ada orang di dalam”. Dominic kembali menyapa orang di dalam. Namun, lagi-lagi tak ada yang membalas. Ia pun semakin yakin dengan apa yang dipikirkannya. “Tapi, tidak mungkin dia melakukan ini padaku. Mengingat lima tahun lalu aku dan dia sangat akrab dan bersama-sama menyelamatkan Sarah dari Antonini”. Ia pun merasa bingung dengan keadaan saat itu. Ditambah Sarahpun semenjak ia datang belum pernah berbincan-bincang dengannya atau bahkan sekedar menyapa. “Ada apa ini? Aku merasa seperti orang yang paling tidak tahu saat ini”. Johni berbicara sendiri dalam hati. Tiba-tiba
“Apa yang kau lakukan di sini?”. Sarah bertanya dengan nada keras. Ia datang bersama camelia sambil menjinjing beberapa plastik belanjaan. Rupanya ia baru saja datang dari pasar.
“Hei. Aku mencarimu, litle lady”. Dominic membalas sambil membalikan badan dan menunjuk Sarah dengan telunjuknya.
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Lagi pula, masih ada waktu rupanya kau mencariku setelah empat hari”. Sarah menyinggung.
“What?”. Dominic merasa bingung “Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan, Sarah”.
“Sebaiknya kau pergi, Dom”. Sarah tampak marah dan menunjuk arah jalan. Sementara Camelia hanya diam memperhatikan dua insan yang tampak dari satu sisi ia melihat sebuah perasaan yang sangta dalam, semntara satu sisi yang lainnya belum menyadari.
“Tidak. Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan pergi tanpamu”
“Dari mana kau tahu aku di sini?”.
“Tidak penting siapa dari mana aku tahu”
“Katakan siapa!”. Sarah memaksa.
“Ok, ok. Johni memberitahuku. Ya, dia yang memberitahu bahwa kau ada di sini”. Sarah menarik rahangnya kesal, terlihat dari urat lehernya mengeras. Ia pun menggelengkan kepala.
“Sial”. Ia mengepal tangannya sendiri.
“Ayolah, Sarah. Mari kita pulang”. Dominic merayu. Tapi Sarah diam saja. “Ok. Terserah kau saja. Urus urusan yang menurutmu sangat penting di sini. Aku tidak percaya, Sarah yang kukenal ternyata telah berubah. Ke mana dirimu yang dulu itu? Kau yang selalu ceria dan sangat menyayangi ayahnya. Lihat dirimu, Bahkan aku tak bisa mengenalimu saat ini. Dan aku kasihan pada ayahmu”. Mendengar Dominic menyebut nama ayah, Sarah merasakan sesuatu. Sesuatu yang sangat dalam, menikam dan masuk ke dalam dadanya. Jantungnya berdetak kencang, darahnya terpompa, kakinya dan tangannya bergetar. Entah, perasaan apa itu, ia sendiripun tak tahu. Tapi ia mengerti dengan apa yang Dominic maksudkan. Namun, sebenarnya ia tidak suka dengan keadaan seperti ini, di mana ia harus meninggalkan rumah dan membuat ayahnya khawatir hanya demi menuruti egonya saja.
“Bawa aku pulang”. Sarah akhirnya menyerah.
“Aku tak mendengarmu. Bisa kau ulangi?”.
“Bawa aku pulang. Tapi ingat satu hal, aku pulang bukan karenamu tapi aku teramat sangat menyayangi ayahku”. Tanpa basa-basi Dominic langsung memakai helm dan menghidupkan motor. Sejenak Sarah memandang wajah dan menatap mata Camelia. Ia pun memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya kepada Sarah. Tak lama Sarah menaiki motor, lalu merekapun pergi dari tempat itu.
Selama diperjalanan mereka tak saling bicara. Baik Sarah ataupun Dominic, mereka terlihat tak saling menampakan suasana senang di wajah mereka seperti yang selalu mereka lakukan dulu. Di mana, saat mereka berdua bersama pasti di situ ada tawa, canda dan kebahagian. Namun tidak seperti saat ini, sepertinya banyak sekali perubahan pada diri mereka, terutama Sarah. Selain ia telah tumbuh menjadi gadis dewasa dan cantik, ia pun lebih sensitif dan cenderung lebih banyak diam, terutama semenjak kedatangan Dominic. Apa sebenarnya yang terjadi pada mereka? Apakah Sarah terlalu berharap pada Dominic? Atau Dominic yang tidak mengerti dan mungkin tidak akan pernah mengerti dengan keadaan Sarah saat ini? Entahlah.
“Tuan nyonya sudah pulang?”. Bibi Margareth menyapa. Ternyata mereka telah tiba di rumah. Sarah hanya membalas dengan senyuman lemas dan penuh kekhawatiran, terlihat dari matanya yang memerah.
Sarah membuka pintu utama rumahnya. Lagi-lagi ia tak mengeluarkan sepatah katapun, ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Sepi dan hampa yang ia rasakan. Karena tak ada siapa-siapa di rumah. Sejenak ia memperhatikan keadaan sekitar kamarnya yang hampir satu minggu ia tinggalkan. “Hu,,,,,,”. Sarah menarik napas melalui hidungnya kemudian ia tahan beberapa detik, lalu ia keluarkan melalui mulutnya. Ia pun duduk di tempat tidurnya, ia elus tempat tidur tersebut lembut. Ia rentangkan kedua tangannya dan membiarkan tubuhnya jatuh di atas kasur yang empuk. Karena merasa capek setelah perjalanan tadi bersama Dominic, tak sadar iapun tertidur lelap.
Pagi hari. Pak Erik memutuskan untuk tidak masuk kerja, karena ia ingin seharianini bersama Sarah. Ia merasa rindu karena hampir satu minggu kehilangan Sarah. Mereka duduk berdua dan saling memeluk dalam sofa yang empuk. Kepala Sarah ia sandarkan pada bahu kiri ayahnya, sementara pak Erik terus saja mengenggam tangan Sarah seakan tak mau lepas. Tak ada yang mereka lakukan, hanya duduk dan menonton acara pagi di tv. Terasa kehangatan dan ketenangan yang menyelimuti mereka berdua.
Tak diduga, acara tv pagi yang awalnya acara kartun kesukaan Sarah, Spongebob, berubah menjadi tayangan menakutkan dan hal itu disaksikan langsung oleh mereka berdua dan seluruh penjuru negeri tentunya. Karena ternyata pagi itu, kawanan Antonini telah meretas semua stasiun tv di Indonesia, sehingga membuat acaranya hanya satu. Dalam video yang hanya berdurasi tiga menit tiga puluh lima detik itu Antonini berpidato dengan bahasa Indonesia namun dengan aksen Itali yang tengil dan menakutkan,
“Halo, Indonesia. Selamat pagi. Aku harap kalian tidak mengabaikan pesan ini. Dan maaf, jika aku menggangu kenyamanan kalian dalam menonton acara tv pagi ini. Namaku Antonini, aku dari Itali membawa kabar gembira untuk kepolisian Indonesia, karena aku mengetahui bahwa akan ada sebuah, maksudku banyak sekali pesta kembang api di kota dalam beberapa hari ke depan. Dan tebak siapa yang akan melakukannya? Aku. Ya, aku. Dan kau gadis kecil, tunggu, kita akan bertemu lagi. Hahahahaha…..”. Lalu,
“Kring, kring, kring”. Pak Erik dan Sarah dikejutkan lagi oleh telepon yang tiba-tiba berdering.
“Siapa itu ayah?”. Sarah ketakutan sambil memeluk pak Erik keras.
“Tenang, nak. Itu bukan siapa-siapa”.
“Jangan diangkat, yah. Kumohon. Sarah takut”. Sarah semakin keras saja memeluk pak Erik.
“Tenang, nak. Biarkan ayah mengangkatnya. Ayah janji, tidak akan terjadi apa-apa”. Pak Erikpun mencium kening Sarah, ia pun lekas mengangkat telepon itu yag tak mau berhenti berdering.
“Hallo!”. Pak Erik mengangkat telepon
“Pak Erik, ini saya Anton”. Mendengar suara bahwa orang yang yang menelepon ialah Anton, pak Erikpun menghembuskan napas, lega. Sementara Sarah masih merasa takut dan diam saja, karena tidak tahu. “Anda melihat tayangan di tv tadi?”. Pak Anton bertanya
“Yeah. Aku melihatnya”
“Bagaimana?”
“Aku baik-baik saja. Hanya saja,,,”. Pak Erik menahan pembicaraan
“Ada masalah apa?”
“Sarah. Dia begitu ketakutan setelah melihat tayangan tadi”.
“Apa? Dia melihatnya juga?”.
“Iya”. Pak Erik menjawab lemas.
“Ini tidak akan bagus. Saya sarankan pak Erik jangan masuk kantor ini hari ni”.
“Saya memang berencara seperti itu”.
“Baik. Tunggu di sana. Saya akan mengirimkam petugas ke sana untuk berjaga-jaga.”
“Lalu, apa rencana kalian?”. Pak Erik bertanya cemas.
“Kami belum tahu, pak. Tapi yakinlah ini akan segera berakhir. Dan sekarang saya bersama tim khusus akan melakukan pembicaraan bersama pak Presiden”.
“Baiklah”.
“Ya”
“Terimakasih pak”.
“Ini belum saatnya berterimakasih”. Kemudian pembicaraan lewat telepon itupun berakhir.
“Yah?”. Sarah bertanya lemas
“Apa yang akan dia lakukan padaku, yah?”.
“Tenang nak, selama ayah ada, takkan ada yang akan menyakitimu, aku janjikan itu”. Kemudian pak Erik memeluk Sarah.
Sementara pak Erik dan Sarah merasa khawatir, ternyata di luar sana terjadi kekacauan akibat dari tayangan dari tv tadi pagi. Salah-satu stasiun tv melaporkan dan menayangkan bahwa terjadi kekacauan di beberapa titik di Ibu kota terutama daerah ramai seperti pusat perbelanjaan dan perkantoran. Kekacauan tersebut diakibatkan oleh banyaknya demonstran yang menuntut bahwa pemerintah terutama kepolisian harus segera menangkap penjahat yang ada dalam video tersebut. “Selamatkan kota kami”. Itu adalah salah-satu kalimat yang para demonstran itu katakan melalui pesan yang mereka tulis lewat spanduk. Kemudian, reporter itu menyatakan bahwa jika hal ini tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah, maka akan terjadi keos dan hal itu dapat menguntungkan pihak yang tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan keadaan, sehingga masalah menjadi bertambah besar.
Di sisi lain, saat pak Anton hendak melakukan pertemuan dengan pak Presiden, Dominic ternyata memiliki rencana lain bersama Johni. Sepertinya keduanya hendak melakukan sesuatu. Tapi, apa yang akan mereka lakukan? melihat bahwa sama sekali tidak ada petunjuk mengenai keadaan saat ini.
Dominic pun pergintanpa sepengetahuan pak Erik. ia mengendap-ngendap melalui pintu belakang rumah, karena jika ia lewat pintu utama, sudah banyak pengawal yang ditugaskan oleh pak Anton untuk berjaga. Lalu, ia pun pergi menuju tempat, di mana telah dijanjikan oleh Johni disuatu tempat. Tempat itu tidak jauh dari keramaian dan kediaman pak Erik. Tempat itu rumah Johni.
Sampai Dominic di rumah Johni. Ia langsung masuk, karena pintu sudah terbuka. Sepertinya Johni sengaja, agar Dominic lebih mudah masuk sehingga tak ada yang mencurigai kehadirannya. Johni menunggu di ruangan tamu.
“Jadi, apa yang membuat pertemuan ini menjadi sangat penting?”. Tanpa basa-basi Dominic langsung bertanya pada Johni.
“Kau sudah melihat video tadi pagi, Dom?”. Johni berbalik tanya.
“Ya. Aku sudah melihatnya. Lantas?”. Dominic kembali bertanya
“Akan kuputar sekali lagi untukmu, Dom?”
“Apa? jadi, ini hanya untuk sebuah video? Aku sudah melihatnya, John”
“Aku yakin kau memang sudah melihatnya. Lihat saja videonya sekali lagi”. Johni menunjuk kearah tv yang sedang memutar rekaman video tadi pagi. Dominic hanya menggelengkan kepala dan merasa bodoh.
“Aku rasa, aku telah menghabiskan waktu di sini”
“Tidak, tidak. Aku punya alasan kenapa kau harus datang kemari”
“Oh, yeah. Aku sama sekali tidak melihat itu. Thank you”. Johni tampak kesal, ia pun bergegas pergi. Namun sesaat ia membuka pintu,
“Aku tahu tempat di mana video itu direkam”. Dominic menghentikan langkahnya dan kembali
“Apa kau yakin?”
“Ya. Aku yakin”.
“Bawa aku ke sana, John”.
“Aku akan membawamu ke sana, tapi tidak hari ini. Karena aku rasa itu bukan ide yang baik”.
“Baik. Besok pagi-pagi sekali aku akan kembali ke sini. Bagaimana?”
“Baik. Besok pagi”. Johni mengiyakan. Dominic pun kembali pulang, karena takut ada yang curiga. Apalagi melihat kondisi pak Erik dan Sarah saat ini. “Sarah”. Tiba-tiba diperjalanan Dominic teringat dengan Sarah. “Apa yang aku lakukan? Sepertinya aku semakin jauh dengan dia”. Hatinyapun tak tenang.
Tak lama ia sampai di rumah, kira-kira pukul sembilan malam. Lagi-lagi ia lewat pintu belakang karena takut ada menurigainya iapun langsung masuk tanpa bersuara. Tampaknya masih ada yang membenak dalam hatinya, ia pun mengendap-ngendap pergi menuju kamar Sarah. Perlahan ia buka pintu kamar, iapun masuk perlahan. Namun, sepertinya Sarah sedang terlelap tidur, akhirnya iapun hanya memperhatikan wajah manis Sarah yang terkulai di atas ranjang empuk. Sementara Dominic berdiri tak jauh di sampingnya. Tak sengaja Dominic menjatuhkan telepon genggamnya, dan sepertinya kegaduhan itu terdengar oleh Sarah dan sontak membuat sarah terbangun sesaat sebelum Dominic pergi
“Hai”. Dominic menyapa sambil sibuk memasukan telepon genggam ke sakunya.
“Hai”. Sarah membalas dengan senyuman renyah.
“Maaf aku telah membangunkanmu”
“Tidak apa-apa. Lagi pula aku merasa lapar. Jam berapa sekarag, Dom?”
“Jam sembilan atau sepuluh”. Dominic melihat tangan yang tidak ada arlojinya. “Mungkin”. Dominic beralasan. Sarah hanya tersenyum. “Ada yang lucu?”. Dominic merasa aneh karena sarah terus saja tersenyum.
“Tidak. Aku rasa malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang”
“Ya. Aku rasa juga begitu”.
Seiring dengan waktu yang berlalu dan malam yang sunyi, merekapun mulai tampak akrab kembali, setelah hampir beberapa hari atau bahkan beberapa minggu mereka tidak saling bicara. Terhitung semenjak kedatangan Dominic ke Jakarta, baru hari ini mereka kembali bicara. Banyak hal yang mereka bicarakan untuk menghabiskan malam. Namun, entah apa yang mereka berdua rasakan? Jelas pada saat itu, Sarah merasakan nuansa yang berbeda, terlihat dari dirinya wajah yang nampak tenang dan bahagia yang tak pernah terlihat selama beberapa hari terakhir.
Kala malam semakin menampakan kesunyiannya, merekapun terlelap dalam balutan keadaan yang penuh kasih. Hujan gemericik di luar menambah hangat suasana malam yang sunyi. Tenang, tenang dan damai. Terdengar alunan nada indah dalam radio yang memutar secara otomatis seolah menggambarkan suasana yang ada. Dan merekapun terbawa ke dalam suasana yang berbeda, jauh dan tak tergambarkan.
Pagi hari di sebuah gedung Pertahanan Nasional. Pak Anton sedang berkumpul dengan yang lain menunggu kedatangan bapak Presiden. Pagi itu pemerintah pusat memanggil pak Anton untuk menjelaskan situasi yang terjadi sselama beberapa hari terakhir terkait kasus kaburnya Antonini dari Nusa Kambangan serta tayangan divideo kemarin. Namun Ia sedikit terkejut dengan senua fasilitas yang ada di gedung tersebut yang serba canggih dan mewah tentunya.
“Berapa banyak uang yang kalian menghabiskan untuk membuat bangunan ini?”. Pak Erik menyinggung. Sementara tak ada yang merespon satupun dari ruangan tersebut. “Baik. Kalian memang orang-orang hebat. Aku mengerti dengan protokal kalian. Dan kalian dibayar Untuk tidak bicara dengan orang asing, hah? Bagus”. Pak Erik bertepuk tangan sendiri.
Tak lama pak Presiden tiba di ruangan.
“Semua berdiri”. Satu pria berkata lantang dan semua orang yang hadir di ruangan itupun berdiri tidak terkecuali Anton.
“Selamat pagi pak Presiden?”. Pria tadi menyapa. Pak Presiden menganggukan kepala. “Bagaimana malam anda pak Presiden?”.
“Malam saya? Saya rasa baik-baik saja, hingga sampai pria dalam video itu hadir, dan itu cukup menyita perhatian saya”. Pak presiden tersenyum.
“Bapak Presiden, perkenalkan ini pak Anton, orang yang ditugaskan dalam kasus ini”.
“Selamat pagi, Pak Presiden. Suatu kehormatan bisa berjumpa langsung dengan anda”. Anton menyapa.
“Mari kita mulai”. Pak Presiden mengarahkan wajahnya pada Anton.
“Dari mana, Pak Presiden?”. Anton bertanya
“Dari semua yang anda ketahui dalam kasus ini, nak”. Pak Presiden meminta. Akhirnya Anton menceritakan semua yang berkaitan dengan kasusu tersebut. Mulai dari Antonini, Sarah, rencana, semuanya. Cukup lama ia menjelaskan, lalu,
“Maaf mengganggu percakapan anda Bapak Persiden”. Satu pria tiba-tiba memotong percakapan. Pak Presiden hanya mengarahkan wajahnya pada pria itu. “Sepertinya anda harus menyaksikan ini”. Pria itu lalu memutar sebuah video.
“Halo, Indonesia! Kita berjumpa lagi. Aku mohon maaf atas ketidaknyamanan kalian hari ini. Sepertinya aku ada rencana lain, mengenai pesta kembang api, sepertinya aku tidak akan melakukannya. Karena cara itu terlalu kuno. Dan aku akan membuat pesta yang lebih hebat dan menggairahkan.” “Take me the girl”. Antonini berbicara dengan sesorang dalam video tersebut lalu munculah seorang gadis muda, berambut panjang, putih dan cantik. “Kalian lihat gadis ini? Lihatlah, dia begitu cantik dan mulus. Dan rencanaku ialah, aku akan membuat sayembara, siapa saja, terutama kalian yang terabaikan, para penjahat kecil, pencopet kota, preman pasar, kau yang terlilit hutang pada rentenir dan ingin terlepas, atau bahkan warga sipil biasa, siapa saja. Siapa saja yang bisa menyelematkan gadis ini, aku akan memberikan beberapa rupiah untuk kalian. Ya, sekitar lima puluh juta, no no, maksudku seratus juta, tanpa pajak dan tunai. Dan aku akan senang jika kalian bisa saling membunuh untuk gadis ini. Hahahaha”. Antonini tertawa dan mencium pipi gadis tersebut lembut namun terlihat licik. “Satu hal lagi,”. Antonini meneruskan “Untuk petunjuk pertama, silahkan cari aku di sebuah bangunan tua. Dapatkan gadis ini, dan ambil uangnya. Dan jangan lupa, gunakan senjata”.
“Kapan video ini ditayangkan?”. Pak Presiden bertanya penasaran
“Pagi hari ini”.
“Dan jumlah penontonnya?”
“Sudah melebihi satu juta, pak”.
“Ini akan berjalan buruk.”. Pak Presiden berbicara sendiri “Pak Anton!”. Pak Presiden memanggil Anton.
“Ya, Bapak Presiden”.
“Lakukan apa yang harus anda lakukan”.
“Siap, Bapak Presiden. Saya akan melakukan dengan segenap kemampuan saya”.
Sementara itu pada saat bersamaan, namun di tempat yang berbeda Dominic dan Johni telah sampai di tempat yang mereka tuju.
“Ini dia, lokasi yang ada dalam video itu”. Johni menunjuk sebuah bangunan tua. “Aku hanya bisa membantumu sampai di sini”.
“Thank’s”. Dominic berterimaksih dengan menggunakan bahasa Inggris.
“Watch your back, man (=hati-hati teman).”. Johni pun pergi. Dominic meneruskan langkahnya, ia langsung menuju bangunan tua itu lewat pintu depan yang sedikit terbuka dan berkarat.
Belum sempat ia masuk, terdengar suara seseorang berteriak pelan “Tolong!”. Terdengar dari teriakannya, seperti teriakan seorang wanita. Dominic pun perlahan merangsek masuk lewat pintu tadi, dan, benar saja ternyata saat ia memasuki banguna itu, ia mendapati seorang wanita yang sedang duduk di kursi kecil dan diikatkan pada kursi itu. Sementara mulutnya disumpalkan dengan sebuah tali dari kain yang tidak menutupi seluruh bagian mulutnya, sehingga ia bisa sedikit berteriak meminta tolong, dan di depannya terdapat sebuah tas berwarna hitam yang resleting tasnya terbuka dan terlihat lembaran uang rupiah di dalamnya. Tanpa basa-basi Dominic langsung menghampiri gadis itu dan membuka ikatannya. Gadis itu tampak berkeringat.
“Apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?”. Dominic bertanya.
“Aku baik-baik saja. Selamatkan yang lain?”. Seru gadis itu cemas
“Apa yang kau bicarakan? Dan uang siapa ini?”
“Jangan sentuh uang itu”. Seru gadis itu. “Itu akan meledak jika kau buka”. Lanjutnya.
Karena Dominic merasa capai dan bingung atas perselihannya dengan gadis itu, akhirnya dia mencoba bertanya perlahan dan gadis itu pun mulai menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan uang itu. “Saat itu sore hari hari,”. Gadis itu mulai bercerita. “Aku hendak pulang dari kerjaku menuju kontrakanku ……..” Lima menit sudah Dominic mendengar cerita dari gadis tersebut, dan tampaknya itu bukan cerita yang akan berakhir menyenangkan. Dominic menghela napas, sementara gadis itu tampak cemas dan shok dengan keadaan yang sedang ia alami.
“Siapa namamu?”
“Karin”.
“Karin, kau tetap di sini dan tunggu bantuan datang”.
“Lalu apa yang akan kau lakukak, pak?”.
“Aku akan menangkap mereka”. Dominic menatap tanah yang kering lalu sejenak ia mengarahkan pandangannya pada gadis itu, gadis itu pun menganggukan kepala seolah memberi semangat, sehingga membakar jiwa yang membara, ia pun pergi. Tempat pertama yang hendak ia tuju adalah telepon umum. Ia hendak menelpon pak Erik mengenai informasi yang ia ketahui dari gadis tadi. Namun, tampaknya ia kesulitan mencarinya.
“Sial! Kenapa begitu sulit menemukan telepon umum di negara ini? Padahal ini negara berkembang, seharusnya mudah mencari barang tersebut di sini”. Iapun melihat keanehan, sebuah kenyataan bahwa orang-orang di negara ini lebih senang menggunakan telepon genggam pribadi dari pada telepon umum. Iapun tahu alasan kenapa tidak ada telepon umum. Sungguh aneh”.
Di tempat lain pak Erik dan tim rupanya telah bersiap melakukan penyergapan. Lengkap dengan senjata dan pakaian serta rompi anti peluru. Mereka mendapat informasi bahwa ada sepuluh gedung tua yang menurut informan mereka itu merupakan tempat di mana gadis-gadis di sandera oleh Antonini. Namun mereka tidak tahu apa rencana Antonini sebenarnya. Pak Erik pun membuat sepuluh tim dalam penyerbuan itu. Di mana masing-masing tim itu akan menyerbu sesuai dengan dengan komandonya.
“Tim satu telah di posisi. Siap menunggu perintah. Ganti”
“Tim dua telah di posisi. Siap menunggu perintah. Ganti”
“Tim tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh telah di posisi. Siap menunggu perintah. Ganti”. Masing-masing tim rupanya telah tiba di tempat tersebut.
Tim yang berjumlah sepuluh tim itu telah siap menunggu perintah dan siaga di tempat yang berjarak sekitar lima puluh meter dari gedung target.
“Tampaknya semua telah berada di posisi, pak?”
“Tunggu aba-baba dariku”.
“Semua unit. Siaga tunggu aba-aba selanjutnya. Ganti”. Pak Erik mencoba mengamati situasi melalui jaringan satelit yang disiarkan secara on-line di layar.
“Memang, apa yang anda tunggu, pak?”. Kapten Tora bertanya
“Tunggu saja aba-aba dariku”.
“Pak!”. Salah-satu anggota memamnggil pak Erik “Ada sambungan telepon untuk anda”.
“Dalam situasi seperti ini?”. Pak Anton menggelengkan kepala
“Ini dari Dominic. Dia bilang, anda harus mendengarnya”.
“Baiklah”. Ia menerima telepon
“Kau punya waktu kurang dari satu menit untuk menceritakan ceritamu, Dom”. Tanpa basa-basi, Dominic pun langsung bercerita.
“Gedung itu adalah jebakan. Memang benar ada sepuluh gedung yang mereka gunakan untuk menyandera para gadis, tapi itu hanya jebakan. Karena Antonini, dia, tidak sama sekali ada di salah-satu gedung itu”.
“Omong kosong kau, Dom.”
“Anda harus percaya, pak. Di masing-masing gedung itu, anda hanya akan menemukan seorang gadis dan tas berisi uang. Percayalah padaku. Dan yang paling berbahaya, jika tas yang berisi uang itu disentuh, maka akan ……..”. belum sempat pak Erik mendengar cerita Dominic secara penuh, tiba-tiba,
“Pak. Sepertinya anda harus melihat ini”. Tora menunjuk ke arah layar on-line. Melihat sesuatu yang terjadi di dalam layar itu. Ia pun lantas menghiraukan pembicaraannya dengan Dominic lewat telepon.
“Pak! Pak! Sial!”. Dominic mengumpat. Sementara pak Erik terus memperhatikan layar tertegun.
“Siapa mereka?”. Pak Erik bertanya bingung.
“Semua unit mohon melapor. Terutama unit 1, 3, 7 dan 8. Karena kami melihat target lain di sana dan mereka bersenjata. Apakah kalian melihatnya? Ganti”.
“Unit 1, 3, 7 dan 8 pada unit. Ya. Kami melihatnya. Kami menunggu perintah. Ganti”.
“Unit pada semua tim. tahan di posisi kalian dan bersiap menuggu perintah. Ganti”.
“Unit 1 pada unit. Diterima. Unit 1, keluar”.
Rupanya para penjahat lain yang tergiur dengan uang dan wanita yang dijanjikan oleh Antonini sudah mulai mendatangi gedung-gedung itu. Banyak dari mereka bahkan membawa senjata tajam untuk saling berebut mendapatkan uang tersebut. Namun, ada pula yang hanya ingin melampiaskan nafsu bejadnya pada gadis tersebut. Bagaikan hewan yang sedang kelaparan, para penjahat kelas teri yang terlihat kumuh itupun berkelahi tanpa peduli dan saling melukai di masing-masing gedung yang mereka datangi, seolah tempat itu merupakan arena duel di mana orang yang hidup terakhirlah yang akan menang. Darahpun mulai tercecer di mana- di mana.
“Apa yang akan kita lakukan dengan situasi seperti ini, pak?”. Tora tampak cemas. Pak Erik terus saja memperhatikan layar.
“Siapkan tim untuk masuk”.
“Siap pak”. Namun sesat sebelum Tora meneruskan komando pada unit,
“Boom!”. Satu gedung meledak dan menghancurkan semua yang ada di sekeliling gedung tersebut termasuk para penjahat yang berburu uang itu. Sementara gadis itu, entahlah mungkin sudah hancur berkeping-keping dan terbakar. Lalu disusul dengan dua gedung lainnya.
“Boom, boom”.
“Apa-apaan ini?”. Pak Anton kesal.
“Pak?”.
“Lakukan! Sergap gedung itu”.
“Unit pada semua unit lakukan penyergapan dan prioritaskan keselamatan gadis itu”. Akhirnya semua tim masuk ke dalam gedung dan benar saja apa yang dikatakan Dominic, ternyata Antonini tidak ada di dalam gedung itu. Yang ada hanya seorang gadis dan sekantong uang.
“Unit satu. Aman”
“Unit dua. Aman”
“Unit tiga. Aman”
“Unit empat, lima, enam, tujuh, sembilan, sepuluh. Aman”
“Unit delapan. Laporkan status kalian”.
“Pak, sepertinya kantong uang ini berisi bom, dan sepertinya kami tidak sengaja mengaktifkannya”. Salah-satu anggota dari unit delapan terlihat gugup dan berkeringat. Terlihat waktu sepuluh detik jarak waktu untuk menghindar dari bom tersebut dan sepertinya itu tak mungkin dijangkau oleh tim untuk keluar dari gedung tersebut. Dalam waktu sesingkat itu, tim delapan sebisa mungkin berlari menyelamatkan diri dan berlari, sementara dua anggota mencoba menyelamatkan gadis yang masih terikat di atas kursi besi dan disumpal mulutnya. Namun, sepertinya terlalu sedikit waktu yang mereka miliki. Dan,
“Boom!”. Gadis dan anggota tim delapan pun hancur bersamaan dengan bom yang meledak dan membumihanguskan semua yang ada di sana. Dan hal itu terlihat jelas oleh pak Erik dan timnya di layar. Merekapun tertunduk lesu.
“Sial! Kita telah tertipu oleh mereka.”. Pak Anton geram. “Siapa saja hubungi Dominic!”. Pak Anton dan tim pun mundur dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Baik, Pak”. Pak Anton pun duduk sambil memgang dahinya seolah tak percaya, ternya ia terlalu menganggap remeh penjahat yang telah kabur di penjara Nusa Kambangan itu.
Sementara itu Dominic pergi menuju rumah Sarah mengikuti nalurinya. Ia pun menghubungi Johni lewat telepon yang hampir lobet, agar terlebih dahulu memantau keadaan Sarah, karena posisi Ia sangat jauh, sementara hanya Johni orang satu-satunya yang ia percaya saat ini.
Di sisi berseberangan.
“Stupid People. Asian! Hahaha”. Antonini dan teman-temannya tertawa puas. Selepas itu, mereka langsung menuju rumah Sarah. Seperti dugaan Dominic, bahwa video yang diunggah ke youtube mengenai rencananya hendak membom kota Jakarta hanyalah pengalihan. Karena tujuannya ialah agar para polisi fokus terhadap issu bom, itulah yang Antonini inginkan, sehingga fokus para polisi terhadap Sarah lengah, akhirnya merekapun menuju rumah Sarah dengan leluasa.
Dengan kendaraan jenis pick up, Antonini dan teman-teman masuk rumah Sarah dengan menyamar sebagai tukang kebun di rumahnya, karena kebetulan dua hari sebelumnya pak Erik pernah menghubungi ahli taman untuk merapihkan taman kecil di belakang rumahnya.
“Selamat Pagi, pak!”. Yanto, anak buah Antonini yang mengemudi dengan yakin berbicara pada satpam di rumah Sarah. Sementara hanya ada empat polisi yang menjaga rumah Sarah, karena yang lain sibuk fokus dengan perintah pak Anton, yang ternyata salah.
“Maaf, pak. Ada keperluan apa?”
“Saya Yanto, pak, dan ini rekan saya Raja. Dua hari yang lalu pak Erik menelepon kami.”. Ia memberikan semacam kartu identitas karyawan tukang taman.
“Benarkah?”
“Saya rasa, Ya”.
“Silahkan masuk. Tapi ingat, jangan membuat sampah di sini!”. Tanpa curiga sedikitpun petugas itu mempersilahkan petugas taman itu masuk. Yanto masuk dengan pick up yang kumuh sementara Antonini bersembunyi bersembunyi di dalam karung yang disatukan dengan tanaman hias yang di taruh dibelakang bersama dua temannya.
Setelah mendapat pesan dari Dominic, Johni langsung bergegas menuju rumah Sarah sendiri yang kebetulan ia hanya berada beberapa blok dari rumah sarah. Tak lama ia pun sampai. Dengan penuh hati-hati Ia memnatau keadaan di sekitar, sekilas tidak ada yang mencurigakan. Hingga Ia melihat mobil pick up yang tak pernah ia lihat sebelumnya di rumah itu. Namun karena takut dicurigai oleh petugas yang berjaga, Ia pun mrencabakan sesuatu.
Sementara itu, di dalam Antonini sudah memulai aksinya dengan melumpuhkan dua penjaga di dalam, sehingga jumlah penjaga hanya tersisa dua di luar dan masih belum sadar dengan keadaan.
“Ayah! Apa kita akan baik-baik saja?”
“Tenang, nak. Kita akan baik-baik saja. Ayah akan selalu menjagamu”. Sarah dan ayahnya, duduk saling berdekapan di dalam kamarnya. Terlihat keduanya sangat ketakutan, mereka telah mengetahui kedatangan Antonini yang sudah berada di dalam rumahnya sendiri, dan mereka hanya tinggal menunggu waktu saja untuk ditemukan, seolah seperti seekor sapi yang menunggu giliran untuk dipotong dan mereka terus bersembunyi dan ketakutan, hingga,
“Krek…”. Terdengar sura pintu yang dibuka, dan perlahan memperlihatkan keadaannya. Sementara Sarah dan ayahnya memperhatikan pintu tersebut dan pasrah.
“Bos. We’ve got the prise (= kita mendapatkan hadiahnya)”.
Setelah Antonini akhirnya menemukan mereka berdua, mereka pun pasrah tanpa perlawanan. Mereka di seret ke ruangan tengah dan masing-masing didikatkan pada mains-masing kursi. Semua benda, tv, sofa, meja, yang menhalangi disingkirkan, sehingga Sarah dan pak Erik benar-benar berada di posisi paing tengah dan menjadi pusat perhatian dan terancam tentunya, dan itu terjadi di rumahnya sendiri.
“Sungguh mengenaskan.”. Antonini pun berceramah dihadapan mereka. Dan seperti biasa, dengan tingkah dan perkatannya yang tengil, dan sepertinya, Ia hampir pasih berbahasa Indonesia, mungkin karena dia sudah terbiasa saat di dalam tahanan. “Lihat semua ini,”. Antonini membuka kedua tangannya “Semua kemegahan ini. Kursi yang mahal, makanan yang enak, lampu yang terang, kasur yang empuk, lantai yang bersih, semeuanya. Tapi,”. Antonini menggelengkan kepala “Tapi kalian lupa satu hal, selama aku, I’m, Antonini masih hidup, kalian tidak akan merasa aman meski aku berada di dalam penjara sekalipun. Lihat aku, sekarang aku lelaki yang bebas. Dan kau,”. Antonini menunjuk pak Erik dengan jarinya, “Kau pasti, Erik. Ayahnya dia”. Sekejap Ia menatap Sarah dan kembali menatap pak Erik. “Kau selalu menjaganya setiap waktu. Menghubunginya saat kau tak pulang dari kantor dan sesekali mengajaknya bermain di taman kota di saat libur. Kau pasti tipe ayah yang sangat menyanyangi anaknya. Benar kan?”. Pak Erik tak menjawab
“Answer me!”. Antonini berteriak marah.
“Anda boleh melakukan apapun pada saya, tapi saya mohon jangan sakiti anak saya”. Pak Erik memohon
“Ayah”. Sarah terharu
“Apapun?”
“Iya. Apapun. Asal jangan sakiti dia”
“Wow, ini keren. Aku sudah menduganya, anda memang ayah yang baik, pak. Bukankah ini keren teman-teman?”. Antonini menatap teman-temannya, sementara Sarah hanya terdiam. “Berikan rasa hormat kalian pada pria ini”. Semua bertepuk tangan dan tertawa. “Raja. Ambilkan makanan untuk pria ini, sepertinya ia merasa lapar”
“Ok, bos. Aku akan mencarinya di lemari pendingin di belakang”
“Pastikan makanan yang terenak”. Raja pergi.
Di saat bersamaan, Johni masih kebingungan. Ia masih mencari cara bagaimana cara masuk ke dalam tanpa diketahui oleh para penjaga. Akhirnya ia terpaksa secara terang-reangan menemui para penjaga tersebut lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Ia pun menemui dan menceritakan apa yang sedang terjadi, namun sepertinya kedua penjaga itu ak percaya pada Johni. Tak lama telepon genggam milik salah-satu penjaga iu berdering, dan Ia pun mengangkatnya dan ternyata telepon itu dari pak Anton.
“Tenyata apa yang anda ceritakan benar. Antonini dan temannya berada di dalam”. Akhirnya Johni dan kedua penjaga itu perlahan mulai menyergap dengan mengendap-ngendap setelah mendapat perintah dari pak Anton ditambah cerita dari Johni dan membuat petugas itu percaya. Mereka bertiga pun berpencar mencari celah untuk masuk.
Dominic masih berusaha secepat yang ia bisa untuk sampai ke rumah Sarah.
Sementara itu. Media kembali membuat suasana menjadi semakin ricuh dan panas. Pak Anton dan tim dicemooh oleh banyak pengamat pertahanan nasional dan media membuatnya seolah Ia satu-satunya orang yang harus disalahkan dalam kasus ini. Ia dan tim terlihat sangat bodoh, sungguh siatuasi yang memilukan bagi seorang pria yang tak biasa mendapat ejekan, tapi saat ini hampir semua orang di tanah Air membicarakannya terutama hal yang buruk.
Beberapa wartawan yang hendak menanyakan informasi padanya pun Ia hiraukan, Ia terlihat kesal dengan media yang selalu melebih-lebihkan keadaan. Ia pun meyerahkan urusan informasi kepada anak buahnya agar menagani para awak media yang menurut dia saat ini sangat menggangu.
Beberapa korban pun diambil oleh tim pak Anton dan dibantu oleh divisi lain, sementara para wartawan semakin banyak berbarengan mengawasi dan melaporkan kemasing-masing televisi dan acaranya. Untuk menenangkan diri, pak Anton meminum secangkir kopi yang disuguhkan anak buahnya sambil memikirkan teka-teki mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan apa tujuan para penjahat ini? Ia pun mengait-ngaitkan rentetan kejadian-kejadian aneh dalam beberapa hari ini dengan kejadian beberapa tahun lalu kenapa Antonini bisa masuk penjara. Hal itu ia pikirkan agar terkerucut sebuah motif, sehingga memudahkan Ia untuk memutuskan sesuatu selanjutnya, dan sepertinya cukup buntu terlihat dari secangkir kopi yang masih terisi setengah Ia buang karena kesal.
Di tempat lain. Dominic susah payah akhirnya sampai di gerbang rumah Sarah. Mengendap-ngendap Ia mencoba memasuki rumah itu agar tak ketahuan oleh anak buah Antonini yang berjaga di belakang pintu depan. Johni dan satu petugas tadipun ternyata sudah ditangkap dan diikat bersama Sarah dan pak Erik. Sementara yang satunya telah mati.

bersambung

cantik

“Cantik”
Rambutmu yang panjang dan kutahu tak pernah kau potong
Gigimu seperti kelinci menjulang ke depan

Kuingat kau memakai baju warna merah muda
dan dengan kerudung dengan warna yang sama
Dari jauh aku melihatmu

Sempat pada waktu yang lain,
ketika kau sedang duduk di kursi panjang di depan
rumah temanmu
Kau duduk berdua bersama temanmu itu
Entah sebuah kebetulan atau bukan,
aku lewat dan kumenyempatkan kepalaku dan
kutolehkan arahku padanya

Kau tersenyum begitupun aku
Entah apa yang kurasakan sekarang
Manis, indah, senag, berbunga atau berbekas
aku tak tahu

~Anharudini~