tak terjelaskan

Tak terjelaskan

Oleh : Anharudini
Setelah aku kembali dari pencarianku yang tak jelas, aku pulang. Saat itu usiaku kurang lebih 23 tahun. Dan namaku Rudi. Aku masuk kuliah diusia yang menurutku cukup telat. Mengingat banyak teman-teman satu fakultas yang masih berusia tujuh belas dan delapan belas tahunan, karena mereka baru saja lulus sekolah tingkat SLTA. Tapi banyak juga yang se-umuran denganku bahkan lebih, Yaitu Latief. Dia berumur sekitar 31 tahunan.
Hari pertama kuliah tidak ada masalah. Hanya saja, rasa sakit dalam dada ini tak pernah hilang dan sepertinya semakin hari semakin terasa sesak. Tak jarang secara spontan aku batuk dengan nada yang keras dan tak enak untuk didengar. Ibuku sering bertanya ada apa denganku. Dan dia selalu menyarankan aku untuk memeriksakan kesehatanku ke dokter. Namun aku selalu menolak, “Aku tidak apa-apa, bu”. Ya, itu hanya alasanku saja. Aku hanya tidak biasa dan tak mau orang lain merasa kasihan padaku hanya karena aku sakit. Bahkan kepada ibuku sendiri.
Tempat perkuliahanku memang bukan tempat yang bonapit apalagi popular. Tapi setidaknya, untuk ayahku yang bekerja sebagai pegawai negeri serta memiliki lima anak termasuk aku, itu cukup. Walau terkadang nunggak. Lagi pula jilka aku kuliah di tempat yang mewah, otakku tidak terkejar. Bukan karena aku bodoh, hanya saja sudah terlalu banyak pikiran yang berkecamuk dalam kepalaku.
Di fakultas tempatku kuliah memiliki dua kelas, yaitu A dan B. Aku masuk kelas A. itupun bukan karena hasil tes atau apa, hanya mungkin karena mahasiswanya yang sedikit.
Hampir tiga bulan lebih aku menjalani rutinitas sebagai mahasiswa. Selama itu tidak ada yang menarik memang, tapi cukup menyenangkan. Aku dan mahasiswa dan mahasiswi lainpun sudah saling mengenal, tidak terkecuali kelas B.
Suatu hari saat aku berangkat ke kampus, aku sengaja datang lebih awal untuk mengerjakan tugas bahasa Inggris dari pak Kholil yang belum selesai. Aku masih ingat, saat itu pukul dua belas lebih lima menit dan kampus masih sepi. Lalu aku duduk disatu-satunya tempat duduk semacam bangunan kecil dengan atap genting, lengkap dengan tiga bangku panjang yang disusun di masing-masing sudut dengan pemandangan beberapa pohon palem yang sangat tinggi besar yang tampak jelas terlihat di depanku. Aku duduk di bangku tersebut, dan mengeluarkan buku bahasa Inggris. Pada saat itu banyak sekali mahasiswa-mahasiswi yang lewat. Sesekali aku mempehatikan, namun tak ada yang membuat perhatianku berubah. Ada yang menyapa, cuek dan sebagian ada yang hanya cukup tersenyum sekedar menyapa, lalu pergi.
Namun ada pemandangan yang lain disiang itu. Suasana riuh mahassiswa-mahasiswi yang berdatangan serta bising kendaraan dari luar kampus berubah menjadi tenang dan damai. Bagai mendengar lantunan musik orchestra di padang pasir yang gersang. Saat itu waktupun seakan terhenti seiring dengan kehadiran dirinya. Dia terlihat cantik dan anggun. Aku tahu siapa dirinya, siapa namanya. Karena dia masih satu fakultas dan hanya berbeda kelas denganku. Tapi kenapa baru sekarang aku merasakannya. Dan, perasaan apakah ini? Aku tak mengerti. Aku bertanya pada diriku sendiri dalam hati. Awalnya aku ragu untuk melemparkan senyum padanya. Ya, sekedar senyum sapaan. Tidak lebih. Karena bibirku terasa kelu saat itu. Tapi, mungkin karena bibirku memiliki naluri sendiri, spontan bibir ini melemparkan senyum padanya dan diapun membalas senyuman yang manis dan menurutku itu tulus lalu dia pergi menuju fakultas. Dari jauh aku memperhatikan langkahnya sampai dia menghilang di antara bangunan-bangunan kampus.
Tak ada yang terjadi setelah siang itu, semua berjalan normal seperti biasa. Hanya saja terkadang aku sering mencuri-curi pandang . Ya, sekedar melihat wajahnya dari kejauhan. Dan aku merasa dia mengetahui keberadaanku. Dan yang membuat aku bingung dan penasaran, dia tampak nyaman seolah tidak terganggu terhadapku. Karena aku sering secara terang-terangan memperhatikan dia. Aku bisa melihat dari matanya, diapun membalas tatapanku. Namun, seperti ada dinding pembatas. Seakan-akan itu menjadi penghalang antara aku dan dia. Dan aku tak tahu itu. Entah itu ego, gengsi atau apa. Aku tidak mengerti. Dan aku tidak tahu harus memulai dari mana. Entahlah.
Di hari yang lain. Saat itu perkuliahan sedang istirahat mata kuliah pertama, kira-kira pukul tiga sore. Dari luar kampus terdengar adzan berkumandang. Aku hendak kembali ke kelas, karena ada sesuatu yang tertinggal. Saat itu dadaku terasa akit sekali. Aku menaiki tangga dengan sempoyongan dan terengah-engah. Dilanjutkan dengan batuk yang sangat keras. Sesak terasa dadaku. Pada saat yang bersamaan, aku berpapasan dengan dia.
“Kakak, nggak apa-apa? Sapa Ernita kepadaku khawatir. Sementara aku hanya menutup mulutku dengan tangan kanan karena batuk.
“Kelihatannya kakak, sakit? Mau aku bantuin jalan, kak?”
“Nggak. Aku nggak sakit, aku Cuma batuk”
“Tapi, kak….?”. Ernita tampak khawatir.
“Aku nggak apa-apa, Er. Makasih, ya?”
“Iya, kak”.
Masih dihari yang sama. Hanya saja lebih gelap karena sudah larut malam. Aku sedang menyelesaikan bagian akhir dari makalah yang akan aku persentasikan lusa hingga tugaskupun beres dan aku tertidur.
Ayam berkokok begitu keras terdengar dari luar menandakan hari telah pagi. Sementara aku masih terbungkus selimut hangat bergambar AC Milan. Malas sekali aku bangun pada saat itu. Mataku terasa berat untuk dikendalikan, karena semalam aku tidur sangat larut mengerjakan tugas kuliah.
Pukul sembilan tiga puluh aku baru bangun lalu kemudian mandi dan berpakaian rapi. Sejenak aku menenangkan diri dengan meminum air yang di buat oleh ibuku tadi pagi. Namun masih terasa hangat. Sakit di dadaku kembali terasa. Sesaat aku berpikir, sebaiknya hari ini aku tidak usah masuk kuliah. Tapi, aku ingat hari ini aku ada tugas makalah. Susah payah aku menyelesaikan tugas ini. Masa hanya karena hal seperti ini aku tidak masuk kuliah? Rudi berbicara sendiri dalam hati.
Aku tiba di kampus tepat pukul satu lebih lima menit. Terlihat dosen telah berada di kelas, ia langsung memanggil namaku. Sambil menghela nafas aku langsung maju ke depan ditemani Arif sebagai mudorator.
“Assalamualaikum……..”. Arif membuka persentase. Sementara dadaku terasa begitu sakit. Dan aku pikir itulah puncak dari rasa sakit yang selama ini yang kurasakan. Tak henti-hentinya aku batuk serta mengeluarkan dahak. Arif memanggil, namun aku tak merespon sedikitpun. Kupingku terasa tebal dan pandanganku memudar. Tenggorokanku terasa sangat panas, saat itu aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku. Aku hanya mendengar teman-teman memanggil namaku, mereka berteriak. Yang kuingat pada saat itu, aku digotong oleh teman-teman. Entah oleh siapa, aku tidak tahu. Kemudian mahasiswa-mahasiswi dari kelas lainpun ikut melihat serta mencari tahu apa yang terjadi. Kepala mereka terlihat sedang mendongah dari jendela kelas melihat aku yang sedang digotong. Namun, aku melihat dia tampak begitu khawatir,. Tidak jelas memang, tapi aku yakin itu dia.
Entah apa yang terjadi. Namun, saat aku bangun, aku sudah berada di sebuah kamar dan kepalaku terasa pusing. Aku melihat impusan yang menempel di tangan dan hidungku. Saat itu aku ingin berbicara, tapi mulutku sulit sekali untuk digerakkan. Namun mataku sudah bisa berkedip serta melihat di sekitarku nuansa yang serba putih. Aku sadar, bahwa aku sedang berada di rumah sakit. Karena dinding, bantal dan sprai yang kupakai semua berwarna putih. Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh menit. Entah pagi atau malam, aku tidak tahu. Akhirnya perawat di sana menyadari bahwa aku telah bangun dari komaku. Perawat itu mencoba berkomunikasi denganku. Dia mencoba menanyakan keadaanku, walau dia tahu aku belum bisa bicara dan dia sangat ramah.
Beberapa jam kemudian, mulutku mulai bisa digerakkan. Nampak suster dan dokter yang pada saat itu menjagaku tampak gembira, melihat keadaanku yang cepat membaik.
“Sus, sudah berapa lama saya tertidur?”. Aku bertanya pada perawat di sana
“Hmm…. Sekitar tiga hari”. Perawat iitu berpikir sejenak “Ya, tiga hari”.
Mendengar hal tersebut sontak aku kaget “Ya tuhan, selama itukah aku tertidur?”. Aku bicara dalam hati.
“Selama itukah, Sus?”. Aku penasaran
“Yap”. Perawat itu menjawab sambil tersenyum ramah.
“Apakah saya memakan sesuatu, Sus?”
“Tentu saja”.
“Bagaimana saya makan, Sus? Sementara saya sedang koma.”
Lalu perawat itu menjelaskan “Anda lihat air yang ada pada impusan itu?”.
“Ya”
“Itulah yang anda makan”
“Oh….. apakah ada yang menjenguk saya, Sus?”. Aku menanyakan hal lain
“Ada”
“Siapa, Sus?”. Aku penasaran
“keluarga dan teman-teman anda”
“Selain itu?”
“Siapa, ya…”. Perawat itu mencoba mengingat-ingat. “Oh iya, saya ingat. Pagi tadi, ada seorang wanita datang kemari”.
“Siapa, Sus?”. Aku menyela
“Saya tidak tahu. Tapi kalau melihat dari wajahnya, dia tampak cemas dan khawatir melihat anda masih terbaring. Apa dia pacar anda?”
“Saya tidak memiliki pacar, Sus”.
Mendengar perkataan perawat itu, aku jadi memikirkan sesuatu. “Siapakah gerangan yang datang kemari dan mengkhawatirkanku itu? Siapakah dia? Siapa?” Entahlah, aku hanya mengira-mengira dalam hati. Pada saat itu aku tidak berpikir bahwa wanita itu adalah dia. Sesaat aku memikirkan hal itu, namun dokter datang lalu memeriksa keadaanku.
Enam hari sudah aku terbaring di atas kasur putih dan ruangan yang membosankan. Dan sampai pada saat itu, aku masih belum tahu sebenarnya penyakit apa yang sedang menyerang tubuhku. Akupun seakan tidak mau tahu akan hal itu.
Sampai dihari ke-7, aku mendengar suara gaduh di luar dan masuk ke ruangan dan ternyata mereka adalah teman-teman dari perkuliahanku, berbondong-bondong mereka masuk. Beramai-ramai mereka datang membawa buah jeruk dan apel serta pir yang di susun rapih seperti parsel lebaran. kemudian mereka menyapa dan mencoba menghiburku. Disaat semua sibuk berbincang dengan urusannya masin-masing,, saat itu pula dia menghampiri dan duduk disebuah kursi yang ada di sebelah bahu kiriku.
“”Hei, kak”. Dia membuka percakapan
“Hei juga”
“Kaka baik-baik saja?”. Dengan sedikit mengernyitkan dahi aku menjawab
“Apa aku terlihat seperti orang baik-baik saja?”. Dia tersenyum renyah.
“Cepet sembuhya, kak”. Dia berkata dengan lembut. Lalu ia mengulangi kata-kata itu lagi “Cepet sembuh, ya?”.
Melihat teman-teman yang sepertinya hendak pulang, dia berdiri. Namun sebelum ia memalingkan badannya, aku menahannya
“Er. Hmmmm…. Makasih, ya”. Dia hanya membalas dengan senyuman. Seolah dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan aku. Akhirnya merekapun pergi.
Tiga bulan setelah kejadian itu atau enam bulan sudah aku kuliah. Artinya sekarang aku sudah masuk semester II. Tak Nampak perbedaan yang terjadi. Hanya saja setiap aku melihat dia, aku merasa beban dipundak serta pikiran dalam kepalaku terasa sedikit ringan serta keberadaan dirinya sangat melegakkan.
Apa yang terjadi antara dia dan aku, aku tak mengerti. Kami berdua tahu, kami saling mengerti dan saling peduli. Tapi kami tidak mengikat perasaan tersebut dengan sebuah hubungan. Dia dan aku saling mengerti dengan kondisi masing-masing. Dia dengan kekasihnya yang sangat mencintainya. Sementara aku, aku menutup diriku karena sesuatu yang ada dan terasa dalam dada ini. Yang kami lakukan hanya saling menyapa dan menjaga jarak. Meski terkadang itu menambah sakit yang terasa dalam dada ini.
Suatu hari dihari yang lain. Aku duduk termenung tepat di depan rumahku. Kira-kira pukul sebelas malam. Aku teringat dengan apa yang disampaikan dokter padaku, sesaat aku hendak pulang empat bulan lalu ketika masih di rumah sakit. Saat itu aku dan keluargaku hendak pulang karena keadaanku sudah membaik
“Bu, ibu sama bapak duluan turun ke bawah ya, aku mau ke toilet dulu sebentar”.
“Cepetan, ya?”. Ibu menjawab
Setelah aku beralasan dengan dalih hendak ke toilet , aku pergi menemui dokter yang menanganiku saat aku sakit. Kebetulan pada saat itu dia sedang bersiap-siap untuk pulang. Sambil mempercepat jalanku, aku memanggil dia.
“Dokter! Tunggu dok”. Aku berteriak. Dia menoleh
“Ia, nak”.
“Ada waktu sebentar?”. Sambil melihat arloji di tangannya ia membalas
“Ada. Memangnya ada apa ya, nak?”
“Hmmm, aku cuma mau tanya, apa yang terjadi pada saya, dok? Maksudnya, saya sakit apa ya, dok?”. Awalnya dokter itu tak mau menjelaskan. Saya melihat kecemasan di wajahnya ketika aku menanyakan hal tersebut. Namun, karena aku memaksa,akhirnya dia mau menjelaskan.
“Nak Rudi, sebenarnya apa yang terjadi kepada nak Rudi ini merupakan suatu keajaiban”
“Maksud pak dokter?”. Aku menyela
“Karena tidak semua penderita penyakit yang nak Rudi derita, bisa seberuntung nak, Rudi”. Aku semakin penasaran.
“Jujur dok, saya tidak mengerti maksud pak dokter”.
“Nak Rudi, saya tidak bisa menjelaskan lebih banyak lagi mengenai hal ini. Meskipun saya seorang dokter, tapi pada situasi seperti ini, sayapun tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa berdo’a. semoga nak Rudi bisa menerima dengan apa yang telah diberi-Nya”. Kemudian aku berpikir, aku rasa dokter ini telah ngawur. Aku jadi semakin tidak mengerti. Kemudian dokter menyuruhku untuk menunggu sementara ia masuk kesalah-satu ruangan di sana.
“Nak, tunggu ya?”. Iapun pergi, Lalu ia kembali dengan membawa sebuah amplop berwarna cokelat, lalu menyerahkan amplop itu padaku
“Nak, mungkin amplop ini bisa berarti sesuatu, atau sebaliknya”. Setelah menyerahkan amplop tersebut, dia menepuk pundakku sambil tersenyum seolah senyuman itu mengartikan sesuatu untukku. Lalu dia pergi. Aku segera merobek amplop tersebut. Dengan seksama aku membaca hingga sampai pada satu kolom yang ditebali huruf-hurufnya. Aku terhenyak dan mulutku terhenti. Sesaat aku memikirkan sesuatu, tapi entah apa yang kupikirkan saat itu? Aku tak tahu. Lalu aku melipat amplop tersebut dan memasukannya ke dalam saku celanaku. Akupun turun menyusul kedua orang tuaku yang sudah dahulu pergi ke bawah. Akhirnya aku pulang dan kembali kekehidupan normalku.
Semenjak hari itu, di kepalaku banyak sekali pikiran-pikiran yang sangat menggangu.. aku cenderung lebih menyendiri dari keramaian serta mudah sekali marah dan tersinggung. Hingga sampai pada suatu ketika. Hari itu di kampus, dadaku terasa begitu sakit. Sakit dalam dadaku tak begitu kuhiraukan, hanya saja bayang-bayang di kepalaku terasa sangat menggaggu. Kira-kira setelah jam pelajaran pertama, dadaku kambuh. Sampai-sampai aku tak bisa meraih pulpen yang berada di hadapanku. Dada dan otakku terasa begitu sakit dan bayang-bayang itu begitu kuat dalam kepalaku. Tatapan mata teman-teman terasa begitu aneh,
“Rudi, kamu kenapa? Mukamu terlihat pucat dan memerah”. Sapa salah-satu temanku di kelas. Sementara aku sendiri tidak tahu dengan apa yang sedang menimpa pada diriku pada saat itu.
Lalu, tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang. Pelukkan itu sangat kencang sekali, namun terasa lembut dan menenangkan. Sejenak aku merasakan kenyamanan itu “Perasaan apakah ini?”. Aku berbicara dalam hati. Terasa kehangatan yang begitu berbeda. Lalu kutolehkan wajahku ke belakang, awalnya aku merasa nyaman dengan dengan pelukan itu. Namun setelah kulihat ternyata pelukkan itu adalah dia, akhirnya kulepaskan pelukkan itu dengan paksa. Sesaat kupandangi wajahnya, lalu dia tersenyum. Tapi aku tidak membalasnya. Malah aku memberi kesan marah di wajahku, lalu aku pergi.

***********

Ernita duduk dan menatap jendela-jendela kaca kelas. Ia selalu melakukan hal itu, karena biasanya Rudi muncul melewati kelas dan terlihat di kaca jendela, karena kelas mereka bersebelahan. Namun, tujuh hari sudah Ernita tak melihat Rudi. Setelah kejadian itu, Ernita tak pernah lagi melihat Rudi. Terlihat jelas kecemasan di raut wajahnya. Dia hanya bisa mengeluh dalam hatinya “ke mana dia? Kenapa dia tidak masuk-masuk kuliah? Ada apa dengan dia?”. Itu yang selalu ia gumamkan dalam hatinya.
Diam-diam ia menanyakan mengenai keberadaan Rudi kepada teman mahasisiwi sekelas Rudi. Namun tak ada satupun yang mengetahui keberadaan pria itu. Iapun merasa cemas, karena tak biasanya Rudi tidak masuk kuliah sampai selama ini.
Dihari selanjutnya Ernita memberanikan diri bertanya kepada teman mahasiswa, yaitu Imam. Imam merupakan mahasiswa yang selalu bersama Rudi ketika di kampus. Ya, setidaknya itu yang Ernita selalu lihat.
“Kak, Imam?”. Ernita memanggil Imam.
“Iya, ada apa?”
“Saya Ernita”
“Iya, saya tahu. Ada apa, ya?”.
“Hmm… Ada waktu, kak. Sebentar aja?”. Ernita terlihat memohon. Imam menghela nafas
“Iya ada. Sebaiknya kita duduk di sana?”. Lalu merekapun duduk disebuah kursi yang panjang yang terbuat dari tembok dengan alas keramik yang menempel pada dinding kelas.
“kak?”
“Iya”
“Kakak kenal dekat dengan kak Rudi, kan?”
“Iya. Kenapa?”.
“Hmmm… kakak tahu dia kemana? Maksudku, emm…”. Ernita terbata “Maksudku, kenapa dia sudah hampir dua minggu tidak masuk kuliah?”.
“Wah, kalau masalah itu, kakak juga kurang tahu. Meskipun kakak dekat dengan dia, tapi kalau mengenai kenapa kak Rudi tidak penah masuk akhir-akhir ini, kakak juga enggak tahu. Soalnya dia orangnya tertutup. Kenapa emang, Er?”.
“Nggak kenapa-napa kok, kak. Ernita cuma nanya aja”.
“Oh. Gimana kalau kamu datang ke rumahnya saja?”.
“Emang kakak tahu di mana rumahnya?”.
“Iya. Kaka pernah main sekali ke rumahnya. Tapi…”.
“Tapi apa, kak?”. Ernita penasaran
“Kakak nggak bisa nganter, ya?”.
“Iya. Nggak apa-apa kok,kak”.
“Sebentar aku tulis dulu alamat rumahnya”.
“Iya, kak”. Imam mengambil pulpen di sakunya, lalu mengambil sobekan kertas di bukunya.
Saat yang bersamaan Yuda pacar Ernita datang menghampiri mereka berdua dengan keadaan terengah-engah
“Hei. Aku cari kamu ke mana-mana, di sini rupanya”. Ernita hanya tersenyum lemah namun tetap manis
“Hei, Mam?”
“Hei, yud!”. Yuda dan Imam saling menyapa.
“Er, ayo kita pulang?”
Kemudian Imam memberikan secarik kertas yang telah dituliskan alamat yang diminta oleh Ernita tadi.
“Makasih ya, kak?”. Imam hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Duluan ,Mam”. Yuda dan Ernitapun pergi. Imam mempehatikan mereka dari belakang bersama kerumunan mahasiswa-masiswi lain dan iapun pergi.
Keesokan harinya. Setelah jam kuliah selesai, Ernita langsung meluncur menuju rumah Rudi yang ia sendiripun tidak tahu. Yang ia tahu hanya secarik kertas yang ia terima dari Imam kemarin, kertas itu ia genggam.
Sementara Yuda kebingungan mendapati Ernita tidak ada di kelasnya.
“Sandra!”. Yuda memanggil Sandra teman sekelas Ernita.
“Iya, kak”
“kamu lihat Ernita?”
“Lihat, kak. Tadi dia di sini. Kenapa?”
“Nggak. Aku cari dia dari tadi nggak ketemu-temu. Di mana, ya?”
“Hmm,,,, coba tanya Kiki. Aku tadi lihat dia sama Kiki”.
“Oh, ya. Makasih”
“Iya, kak. Sama-sama”
Yuda bergegas mencari Kiki. Kiki juga adalah teman sekelas Ernita.
“Ki!”. Yuda memanggil Kiki sambil berlari karena Kiki sudah berada di gerbang fakultas.
“Iya, kak. Ada apa?”
“Ernita mana?”. Yuda berbicara sambil terengah-engah
“Tadi si emang sama aku. Tapi dia bilang mau pergi duluan, kak”
“Kamu tahu ke mana?”. Yuda penasaran
“Nggak, kak. Tapi aku lihat tadi, dia sangat tergesa-gesa dan buru-buru”
“Oh gitu”
“Kenapa emang, kak?”
“Nggak. Makasih ya, Ki”.
“Sama-sama. Aku duluan ya, kak?”
“Iya”.
Karena Yuda merasa bingung dan kampuspun sudah mulai sepi, Yudapun pergi dengan perasan aneh dan penuh dengan tanda Tanya dalam hatinya.
“Masih jauh nggak, bang?”. Ernita bertanya pada sopir angkot yang ia tumpangi.
“Bentar lagi, neng. Tuh di depan tempatnya”
“Yaudah di sini aja, bang”.
Ernitapun turun dari angkot setelah membayar ongkos kepada sopir sambil memperhatikan alamat rumah yang ia pegang. Ia berhenti tepat di sebuah jalan pertigaan dan jejeran rumah-rumah. Di sana ia melihat pangkalan ojek dan sebuah masjid yang cukup besar.
“Nyari siapa teh?”. Sapa tukang ojek
“Iya ni, bang. Aku lagi nyari alamat teman. Abang-abang kenal nggak?”
“Emang siapa yang neng cari?”
“Namanya Rudi. Dia temen kuliah aku, bang. Menurut alamat di kertas ini, alamatnya di sini”
“Coba abang lihat alamatnya”. Ernita menyerahkan secarik kertas yang Ia genggam sedari kampus.
“Euh,, ini si rumahnya Rudi”
“Abang kenal?. Ernita merasa senang mendengar perkataan tukang ojek. Tampak kegundahan dalam hatinya sedikit terhibur pada saat itu
Setelah bercakap-cakap dengan tukang ojek, akhirnya Ernitapun langsung melangkahkan kakinya menuju rumah lelaki yang ia cari-cari, yaitu Rudi. Yang ternyata tidak jauh dari pangkalan ojek tadi.
Sambil terengah-engah ia berjalan dan sampailah ia disebuah rumah. Ia memperhatikan satu pohon rambutan dan dua pohon palem kecil namun cukup tinggi yang tumbuh di depan rumah tersebut, iapun berdiri di depan pintu
“Assalamualaikum”. Ernita mengucapkan salam dengan sopan
“Waalaikum salam”. Terdengar lembut suara di dalam rumah yang menjawab salam.
“Krek”. Tak lama pintupun terbuka. Lalu munculah seorang wanita kira-kira berumur empat puluhan, terlihat beberapa uban di kepalanya
“Sore, bu!”. Ernita menyapa
“Sore juga”. Ibu tersebut membalas dengan ramah. “Maaf siapa, ya?”
“Saya Ernita, bu. Rudinya ada di rumah?”
“Rudi?”. Ibu tersebut kaget “Di sini nggak ada keluarga kami yang namanya Rudi, nak”
“Maaf, bu. Ini bukannya rumah teman saya, Rudi?”
“Maksudnya?”
“Iya, bu. Menurut alamat di kertas, ini rumanhnya Rudi. Dan menurut tukang ojek di depan juga seperti itu”
“Hmm, sebentar ibu panggil bapak dulu, ya? Mungkin dia tahu. Mari masuk, nak?”
“Iya, bu. Makasih. Saya di luar saja”
“Pak!”. Ibu itu memanggil suaminya sambil berjalan ke dalam. Sementara Ernita menunggu di luar sendiri sambil memperhatikan pohon rambutan yang tidak berbuah.
Tak lama ibu tadi muncul kembali
“De, Ernita?”
“Iya, bu”
“Jadi gini. Memang dulu rumah ini dimiliki atas nama Rahman, ayahnya Rudi. Tapi,,,,”.
“Tapi apa, bu?”. Ernita memotong pembicaraan
“Tapi baru saja minggu kemarin kami membelinya dari pak Rahman”
“Jadi?”. Ernita penasaran
“Ya, jadi sekarang ini rumah kami”
“Ibu tahu di mana sekarang mereka tinggal?”
“Maaf ya, nak. Sepertinya Cuma itu yang ibu tahu”. Ernita hanya termangu mendengar kata-kata ibu tadi. Ia terlihat seperti memikirkan sesuatu, tapi apa yang ia pikirkan? Entahlah.
“Nak?”. Si ibu menyapa Ernita yang terlihat melamun. Sambil mengedipkan kedua mata dan menggelengkan kepalanya Ernita kaget
“Iya, bu”
“Ada apa?”
“Oh, nggak. Makasih. Maaf sudah menggaggu waktunya”
Ernitapun pergi dari rumah tersebut setelah terlebih dahulu berpamitan. Ia melangkah melewati gang-gang kecil yang dihimpit oleh rumah-rumah yang saling berhadapan. Saat ia serius berjalan, seseorang memanggilnya
“Hei, nona?”. Seorang pria memanggilnya. Entah itu sapaan atau godaan iapun menghiraukan dan terus saja jalan. Namun,
“Apa kau mencari seseorang bernama Rudi?”. Mendengar pria tersebut mengucapakan nama seseorang yang ia cari, langkahnyapun terhenti lalu iapun mengarahkan pandangannya pada pria tersebut
“Bagaimana kau tahu aku mencarinya?”
“Anda tidak perlu tahu bagaimana aku bisa mengetahuinya. Apakah saya benar?”.
“Ya. Apa yang kau ketahui mengenai dia?”. Ernita berbalik Tanya
“Apa kau menyukainya?”. Pria tersebut berbalik Tanya lagi. Sementara Ernita hanya diam.
“Jika anda memang benar menyukainya, tunggu dia. Karena dia layak untuk ditunggu”. Kemudian Ernitapun pergi tak berkata apa-apa.

****************

Tujuh tahun kemudian. Seorang wanita sedang memilah-milah buku di rak buku, Ia sedang berada di sebuah gedung pusat perbelanjaan ternama di kota Bogor. Ia tampak serius melihat judul-judul buku yang terlihat dari sampulnya. Dan ia tak sendiri, tampak ada seorang anak kecil kira-kira berumur empat tahunan yang ia tuntun setiap saat. Anak tersebut tampak akrab dan mirip sekali dengan dia. Siapakah dia? Entahlah.
“Rudi?”. Seorang editor dari sebuah perusahaan percetakan memanggil Rudi.
“Iya, pak Adi”. Rudi membalas
“Sepertinya tulisan-tulisan anda sudah mulai banyak peminatnya.”
“Saya rasa juga begitu, pak ”
“Gimana perasaanya?”
“Lumayan panjang penantian saya, pak. Setelah hampir lima tahun akhirnya, huh”. Rudi menghela nafas.
“Selamat, ya?”
“Terimakasih, pak”.
“Hoam,,,”. Rudi tampak ngantuk setelah ia menulis novel yang belum ia selesaikan malam itu. Ia memiliki ambisi dalam dalam novel tersebut, karena ia menganggap, bahwa novel yang ia sedang tulis sangat berbeda dengan novel-novel ataupun cerpen yang ia tulis sebelumnya. Meski ia belum menjadi penulis popular, tapi buku-buku yang ia karang mulai diminati banyak pembaca terutama anak-anak remaja tidak terkecuali mahasiswi-mahasiswi terutama perempuan. Iapun terlelap tidur di kursi yang ia duduki dengan sebuah laptop yang masih menyala di depannya.
Tak terasa hari sudah pagi, ayam di luar sudah terdengar berkokok. Tak seperti biasa, saat itu Rudi bangun pagi sekali. Biasanya ia bangun pukul Sembilan pagi, itupun sudah terlalu pagi bagi dia. Tapi pagi itu ia melihat jam di dinding pukul lima tiga puluh. Karena merasa tanggung karena sudah terbangun, iapun langsung pergi ke halaman luar. Terasa udara yang begitu sejuk yang menerpa tubuhnya yang hangat, bagai terbangun di sebuah savana yang luas, pagi itu ia merasakan ketenangan yang begitu murni dan segar yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah melakukan lari-lari kecil serta jogging di sekitar halaman rumahnya, iapun mandi karena merasa gerah dan berkeringat.
Tak terasa iapun telah rapih dengan dengan kemeja berwarna cokelat yang tidak ia kancingkan, serta di dalamnya ia pakai kaos polos berwarna putih dan jeans yang berwarna biru, ia memikirkan sesuatu.
“Sepertinya kalau hari ini aku pergi ke suatu tempat yang sejuk namun tetap dekat dengan pusat keramaian oke, ni”. Rudi berkata sendiri dalam hatinya.
Setelah beres membuat simpul terakhir pada sepatunya, iapun bergegas pergi meniggalkan rumahnya.
“Bu, aku pergu dulu”.
“Mau ke mana kamu, nak?”
“Biasa, kerja”
“Iya. Hati-hati, nak”
“Iya”.
Setelah hampir satu jam mengelilingi kota Bogor, akhirnya ia melihat sebuah taman, yaitu kebun Raya Bogor. Iapun menghentikan angkot yang ia naiki lalu kemudian masuk setelah ia membayar karcis. Namun harga karcis saat itu cukup mahal, mungkin karena hari itu hari minggu.
Di dalam, ia banyak melihat hal, terutama pohon-pohon yang besar dan tinggi menjulang serta bunga-bunga langka dan sepertinya tidak ada di tempat ia tinggal. Sebelum ia masuk, Ia pikir akan sepi di dalam sana atau setidaknya sedikit orang, tapi malah beda, banyak sekali orang-orang selain dia yang mungkin berpikiran sama ketika hendak masuk ke Kebun Raya Bogor. Namun ia sudah terlanjur membeli tiket dan masuk, jadi nikmati saja apa yang ada di dalam sana.
Tidak sampai setengah ia mengelilingi taman itu, sepertinya ia sudah mulai kelelahan. Tampak keringat yang bercucuran di wajahnya. Iapun memutuskan untuk berhenti dan duduk di sebuah gonngo yang ada antara dua pohon besar dan sebuah danau kecil buatan. Iapun mengeluarkan air mineral yang ia simpan dari tas kecilnya yang ia beli dari luar. Tak lupa sepotong roti lapis berisi slai kacang untuk mengganjal perut. Sambil memandang orang-orang yang ada di seberang danau kecil, ia mengunyah roti itu dengan nikmat.
“Kak, Rudi?”. Terdengar seseorang wanita memanggil Rudi. Namun ia belum sadar bahwa ada seseorang yang menaggilnya iapun terus mengunyah dan tampak nikmat sekali.
“Kak, Rudi?”. Seseorang tersebut memanggil lagi namun terasa dekat dan keras mebuat rudi kaget.
“Ukhu!”. Rudipun tersedak karena kaget mendengar seseorang yang memanggil namanya dari belakang. Seseorang yang memanggil Rudipun reflek langsung memukul leher belakang Rudi pelan dan memberikan sebotol air mineral yang kebetulan ia bawa juga.
“Tidak perlu, saya membawa air sendiri. Terimakasih”. Rudipun meneguk air mineralnya sendiri. Sampai pada saat itu, Rudi belum sadar terhadap siapakah orang tersebut yang membuat dirinya tersedak dan iapun tampak cuek. Tapi,
“Wow, siapa yang aku temui di sini?”. Rudi kaget iapun memiringkan kepalanya dan termangu
“Hai”. Ernita menyapa dengan lembut. Ternyata orang yang yang tersebut adalah Ernita.
“Hai juga”. Rudi membalas, namun ia masih belum percaya dengan apa yang terjadi pada saat itu.
“Apakah ini benar kamu, Ernita?”
“Iya. Kakak lupa?”
“Tidak. Hanya saja adik, eu…. Kamu, eu…..”. Rudi terbata “terlihat cantik sekali saat ini”.
“Benarkahkah, kak?”
“Iya. Maksud kakak, nggak. Maksudnya, ya”. Rudi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hmmm”. Keadan pada saat itu tampak begitu canggung, terlihat keduanya begitu hati-hati untuk megeluarkan dan merangkai kata demi kata. Namun tampak jelas pancaran dari mata mereka, bahwa sebenarnya pada saat itu mereka ingin menggengam dan saling memeluk karena sudah hampir tujuh mereka tidak saling bertemu kemudian berteriak “Aku rindu sama kamu. Aku rindu”.
“Ibu!”. Tak lama seorang bocah laki-laki muncul sambil berlari dan memanggil Ernita dengan panggilan ibu. Bocah tersebut langsung memegang kaki Ernita dan merengek.
Keadaan tersebut sontak membuat Rudi kaget, di kepalanya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan mengenai anak tersebut. “Siapa anak kecil yang memanggil Ernita dengan panggilan ibu ini?”. Saat itupun Rudi hanya bisa menduga-menduga dan iapun tidak mau memikirkan hal yang maca-macam.
“Siapa ini, Er?”. Rudi penasaran
“Ini Ahsan. Ahsan Rudi tepatnya”.
“Adikmu?”
“Tidak, ini anakku”. Awalnya Rudi tak percaya.
“Ah, kamu becanda ya, Er?”
“Tidak. Aku serius, kak. Ini memang anakku”. Mendengar penegasan dari Ernita bahwa bocah tersebut adalah anaknya, Rudipun diam tak berkata sedikitpun. Mulutnya terkunci. Iapun merasa seolah sedang berada disuatu tempat yang luas dan ramai serta dikelilingi oleh banyak orang, namun ia sendiri tak tahu di mana dan hal it terus putar, berputar dan berputar dalam kepalanya seolah tak mau henti, kemudian ada sekilas bayangan wajah yang tak asing di kepalanya.
“Kak? Kak Rudi?”. Ernita melambaikan tangannya di depan wajah Rudi yang tiba-tiba diam. “Ada apa, kak?”
“Oh. Maaf, Er. Kakak bengong ya? Maaf, ya?”.
“Nggak apa-apa, kak. Mungkin kakak kecapean”
“Iya kali.”. Rudi menjawab lemas. “Tujuh tahun tak bertemu besar sekali perubahan yang terjadi”
“Iya, kak. Beginilah memang yang telah terjadi”
“Sepertinya kakak banyak sekali ketinggalan info mengenai kamu, dik”.
“Hehe, kakak bisa aja. Aku kan bukan artis”.
Kemudian setelah pertemuan yang tak sengaja dan mengecewakan bagi Rudi, tampak ada sebuah permasalahan baru dari keduanya. Meski Rudi tahu sekarang Ernita sudah memiliki status yang berbeda, tapi sepertinya hatinya tidak bisa dibohingi bahwa ia masih memendam rasa pada dia, terlebih semenjak pertemuan itu. Bahkan ia selalu menduga-duga bahwa anak yang ia bawa pada saat itu bukanlah anak dia. Sementara Ernitapun sama, tapi satu hal dari Ernita, ia tak pernah-pernah benar bercerita mengenai apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Dan semenjak kejadian itu, tampak komunikasi mereka lewat telepon menjadi semakin intens. Namun Rudi masih bertanya-tanya mengenai status Ernita.

“Asti!”. Rudi memanggil asistennya
‘Iya, bos”
“Gimana perencanaan untuk acara hari minggu nanti?”
“Sedang dikerjakan, bos. Ya, sekitar dua puluh lima persen lagi”.
“Bagus. Makasih ya, Ti”
“Tidak masalah, bos”
“Kamu gimana, Fer?”
“Masalah sewa gedung semua beres, bos. Tinggal promo, lagi dijalankan sama Agus”.
“Oh iya, di mana dia sekarang, Fer?”.
“Siapa bos, Feri?”
“Iya”
“Dia lagi sibuk promo”.
“Jangan lupa sebar juga sama pengguna sosial media, temen-temen kalian, atau siapa aja yang kalian kenal”
“Beres, bos. Itumah sudah pasti”. Feri tersenyum. Sementara Asti sedang sibuk menghitung biaya yang akan dikeluarkan untuk acara nanti di depan laptopnya.
“Kring, kring…”. suara telepon berdering dari saku Rudi.
“Fer, Asti, lanjutin ya? Aku mau ngangkat telepon dulu”
“Siap, bos”.
“Ngomong-ngomong telepon dari siapa, bos? Ciye,,,”. Feri menggoda.
“Ehem,,,,”. Astipun ikut menggoda
“Ah, bisa aja kalian. Sstttt, jangan berisik ah”. Rudi tersenyum senang karena seorang yang menelponnya Ernita
“Hallo”. Ernita mengawali percakapan
“Hallo. Maaf Er, agak lama ngangkatnya, maklum lagi sibuk-sibuknya”
“Lagi sibuk, ya? Yaudah aku nanti aja nelponnya”
“Nggak apa-apa, Er. Lagian udah beres, kok. Kan ada asisten, hehe”. Rudi menyeringai
“Gimana kabarnya kamu, Er?”
“Aku baik-baik saja, Kak. Kok nanyain kabar sih, bukannya kemarin bahkan tadi pagi kita sms-an?”
“Hehe, habis aku bingung harus ngomong apa, Er?”
“Oh iya, Kak. Lusa depan kita bisa ketemuan , nggak?”
“Emangnya ada apa, Er?”.
“Nggak, aku pengen ngobrol aja. Kakak nggak bisa, ya?”
“Oh, nggak kok, Er. Kakak nggak sibuk”
“Kalo emang nggak bisa nggak apa-apa kok,kak”
“Beneran nggak, Er. Lagian aku juga pengen ngomong sesuatu sama kamu”.
“Terus, harinya kapan, Er?”
“Ya, sekitar dua harian lagi”
“Berarti hari kamis?”
“Iya”.
“Ketemuanya di mana, Er?”
“Entar aku kasih tahu lagi”
“Iya, Er”. Kemudian sejenak keadaan menjadi sunyi dan canggung, tampak keduanya kehabisan kata-kata serta bahasan untuk diobrolkan. Anginpun berhembus melewati sela-sela jendela kantor serta sedikit menggoyangkan rambut Rudi yang keirng seolah menggambarkan situasi canggung pada saat itu. Entah dari mana asal angin itu. Mengingat Rudi sedang berada di sebuah ruangan. Sementara telepon masih dalam keadaan tersambung. Lalu,
“Kak?”
“Iya, Er”. Rudi menggelengkan kepalanya
“Udah dulu, ya?”
“Oh iya, Er”. Sesaat sebelum Ernita menutup telepon
“Er?”. Tiba-tiba Rudi memanggil kembali
“Iya, kak”
“Boleh nggak aku minta sesuatu sama kamu?”
“Apa itu, kak?”
“Bisa nggak, mulai saat ini kamu jangan panggil aku kakak, yah?”. Rudi memohon
“Iya, kak. Maksudku Rudi”. Rudi tersenyum, sementara Ernitapun mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Rudi. Karena memang mereka sebenarnya sudah berada dalam sebuah perahu dan samudera yang sama. Perahu tersebut mereka kayuh bersama dengan lembut dan penuh dengan rasa. Gelombang besar yang sempat menerpa perahu merekapun perlahan mulai surut. Dan sepertinya daratan hijau yang penuh dengan bunga-bunga yang berwarna dan beranekaragam sudah mulai nampak terlihat di ujung perahu mereka, sementara mereka berdiri di atasnya, kemudian mereka tinggal turunkan jangkarnya.
Pukul empat sore, tak seperti biasa Rudi sudah tiba di rumah. Banyak sekali barang ia bawa, tampaknya ia membawa oleh-oleh untuk kemudian ia bagikan kepada adik-adiknya di rumah. Ia terlihat gembira sekali di tengah persiapan untuk launching buku pertamanya minggu nanti.
“Hmmm, sudah lama juga aku nggak ngasih hadiah sama adik-adikku”. Rudi bicara sendiri di depan pintu.
“Ida! Ida!”. Rudi memanggil adiknya yang paling buncit. Ida merupakan satu-satunya adik perempuan yang ia miliki. “Lihat kakak bawa apa”.
‘Krek”. Pintupun terbuka
“Ba’”. Rudi mengejutkan Ida yang muncul di balik pintu yang ditemani oleh ibu. Rudi salim pada ibunya. Sementara Ida tanpa basa-basi langsung mengangkut semua bawaan yang dibawa Rudi
“Ka, Luthfi. Lihat aku bawa mainan sama makanan”. Ida langsung mengakui semua miliknya. Tak lama ke-tiga adik Rudi yang lainpun muncul lalu kemudian saling berebut
“Aku mau yang ini”. Ujar Ida kekeh
“Aku juga”. Luthfi dan Jabar ikut-ikutan.
“Ka, aku mau dua ya mainannya?”. Mohon Luthfi pada Rudi
“Iya, terserah. Kakak sudah beliin semua buat kalian. Bagi-bagi aja”. Sementara Darus, adik rudi yang paling besar cuek saja karena sedang belajar di kamarnya.
“kamu keliatannya lagi seneng hari ini, nak?”. Tanya ibu pada Rudi
“Aku biasa saja, bu. Aku mandi dulu, bu”. Iapun lekas pergi mandi.
Malam harinya Rudi meneruskan tulisannya. Namu sepertinya malam itu ia tak bergitu serius, tampak ia lebih banyak melamun dan tersenyum sendiri, entah apa yang ia bayangkan malam itu?
Pukul empat sore di kantor. Rudi tampak sibuk. Ia bersama timnya akan melakukan rapat penting untuk acara nanti. Sementara Rudi merasa gelisah dan berkeringat kering, karena hari itu ia sudah memiliki janji dengan seseorang, yaitu Ernita dan seharusnya ia sudah bersama Ernita di suatu tempat yang telah ditentukan Ernita. Layar ponsel Rudipun menjukan lima pesan dan lima belas panggilan tak terjawab dari Ernita. Rudi bisa saja mengangkat ponselnya, namun pada saat itu hadir pula Pak Adi, ia adalah orang di balik smua rencana. Ia yang mebiayai anggaran serta orang yang percaya terhadap karya-karya Rudi sehingga membuat rudi tidak enak untuk meninggalkan rapat, bahkan hanya untuk membalas sms ataupun mengangkat telpon.
“”Bos, bisa kita mulai sekarang?”. Tanya Feri pada Rudi.
“Iya, kenapa Fer?”. Rudi mebalas kaget
“Bisa kita mulai?”
“Iya. Silahkan”. Rudi mebalas cemas
Sementara itu di tempat yang lain di sebuah cafe kecil Ernita duduk termangu sendiri sambil mememgang hp yang tak pernah berdering. Ia menatapi bunga-bunga hiasan yang terletak di atas mejanya dan di meja yang lain. Mereka berdua berjanji akan bertemu di sana. Namun sepertinya itu hanya berlaku pada satu pihak saja.
“Mbak, mau pesan sekarang?”. Seorang pelayan menawarkan pesanan, karena ia melihat Ernita sudah datang dan duduk begitu lama namun tak memesan apa-apa.
Tak terasa tiga jam sudah ia menuggu, namun tampak Rudi belum menampakkan batang hidungnya. Jangankan melihat Rudi, hp digenggamanyapun tak berdering, mengingat ia sudah memberi beberapa pesan lewat hpnya. Dan itupun tak Rudi balas. Ia mulai merasa bosan dan gusar. Akhirnya karena penantiannya sepertinya sia-sia iapun pergi meniggalkan cafe tersebut dengan perasaan penuh dengan kekecewaan.
Selang tiga puluh menit, Rudi selesai rapatnya. Tanpa basa-basi ia langsung menuju tempat Ernita. Tak lama ia sampai, namun ia tak menemukan Ernita di sana. Iapun merasakan sebuah firasat yang kurang baik dalam hatinya.
“Mbak, apa anda melihat seorang wanita. Dia memesan meja no. 5?”. Tanya Rudi kepada pelayan di sana
“Oh, wanita itu. Ia tadi ada di sini”
“Lalu ia ke mana?”.
“Sudah pergi sekitar stengah jam yang lalu”.
“Ah….”. rudi geram. “Seharusnya aku tadi bisa saja beralasan untuk tidak mengikuti rapat segala. Sial”. Rudi berteriak. Sementara orang-orang di cafe menadanginya aneh. “betapa bodohnya aku”. Ia mengumpat.
Iapun mencoba menghubungi Ernita lewat telepon, namun tak ada jawaban. Dan sepertinya itu merupakan sebuah jawaban.
Dikesunyian malam dan gelap ia berjalan dengan kepala yang tertunduk. Langkahnya lesu dan tertatih. Sorotan lampu malam mengirngi dirinya, seolah ia satu-satunya manusia di dunia yang merasakan ketidak beruntungan malam itu. Bunyi klakson mobil dan motor tak ia hiraukan, ia terus saja berjalan melangkahkan kakinya di atas trotoar yang tak berujung. Malam itu terasa dingin, dingin sekali.
***********************

Beberapa hari kemudian. Terdengar suara kicauan burung gereja di pagi hari. Tampak keadaan sudah kembali berjalan normal seolah tak pernah terjadi apa-apa dan ia tak pernah bertemu lagi dengan Ernita. Iapun kembali menyibukan diri dengan kerjaan yang menumpuk. Dan memang itu yang selalu ia lakukan sebelumnya. Iapun kembali melakukan hal-hal yang tak ia lakukan selama beberapa hari terakhir. Ia mencoba mencoba melupakan beberapa hal, dan sepertinya ia berhasil. Namun ada perbedaan yang nampak jelas pada dirinya. Ya, sepertinya ada yang berbeda pada dirinya. Tapi apa yang berbeda? Entahlah.
“Bos, apa kau baik-baik saja?”. Tanya Asti
“Ya. Aku baik-baik saja. Kenapa?”
“Apa kau yakin, bos?”
“Ya, ya. Aku yakin”
“Kau terlihat pucat, bos”
“Benarkah?”
“Ya”
“Mungkin aku kurang tidur”
“Sebaiknya kau pergi ke dokter, bos?”
“Tidak, tidak. Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Percayalah”
“Baiklah, bos. Terserah kau saja”
“makasih, Ti”
“Tidak masalah, bos”
Dua hari menjelang hari-H
“Bu!”. Rudi memanggilnya ibunya dari kamar
“Iya, nak. Ada apa?”
“Tolong telepon Feri atau Asti, hari ini aku nggak ke kantor. Aku agak kurang enak badan”.
“Iya, nanti ibu kasih tahu mereka. Coba aku pegang kening kamu, nak? Ibu panggil bapak dulu ya, biar kamu dibawa ke rumah sakit”.
“Nggak usah, bu. Aku nggak apa-apa, Cuma panas aja”
“Tapi, nak”
“Percaya, bu”
“Yaudah kalau emang itu mau kamu. Tapi ibu kompres mau, ya?”
“Iya, bu”. Ibu Rudipun pergi ke dapur untuk segera memasak air serta menyiapkan baskom kecil dan kain untuk mengompresnya.
Terik matahari pagi menyengat dan menyinari setiap hamparan yang ia senari. Namun terasa segar oleh angin yang berhembus menembus kemeja putih yang Rudi kenakan. Tampaknya ia sudah sembuh dari sakitnya, namun terkadang masih terasa sakit jika ia terlalu keras dalam berpikir. Iapun berangkat menuju kantor.
Di kantor tak banyak yang ia lakukan, hanya memeriksa keadaan rekannya Asti dan Feri, sementara Agus selalu ada di luar.
“Aku duluan”
“Iya, bos. Hati-hati”
Adi pulang menaiki angkutan umum, ia duduk di kursi paling ujung dan berhimpitan bersama penumpang lain. Dalam angkutan, ia memandangi mobil-mobil lain serta ruko-ruko di pinggir jalan yang terlihat seperti berjalan sendiri melewati mobil yang ia tumpangi. Sementara banyak pula pohon serta orang-orang. Namun, tak diduga ia melihat seorang wanita di trotoar. Terlihat ia sedang menuyun seorang anak laki-laki. Awalnya Rudi tak menyadari, namun setelah agak jauh, ia sadar bahwa wanita tersebut adalah Ernita. Iapun spontan menghentikan angkutan yang ia naiki.
“Kiri-kiri”. Setelah mebaayar uang pas pada sopir angkot, iapun langsung bergegas berlari menuju Ernita. Terengah-engah Rudi menghampiri Ernita
“Hei”. Rudi menyapa ragu. Ernita tak bergeming mendapati Rudi yang menyapanya. Ia hanya memandang wajah Rudi sesaat lalu memalingkannya. Iapun menggendong anaknya lalu berjalan tergesa-gesa menghindari Rudi. Iapun mengerti dengan sikap Ernita padanya. Ia sadar diri dengan apa yang telah ia lakukan padanya.
“Er”. Rudi kembali memanggil Ernita. Sementara Ernita terus saja berjalan tak mempedulikannya dan Ia mencoba mengimbangi Ernita. “Er. Tolong dengarkan aku”. Ernita terus saja jalan “Er. Ayolah. Ucapkan sesuatu. Kumohon”. Rudi memohon. Tak disangka oleh Rudi, Ernita menghentikan langkahnya begitupun Rudi. sambil memangku anaknya di pinggang, Ernita bereaksi
“Kamu ingin aku bicara! Kamu ingin aku ngomong! Kamu mau aku ngomong apa? Dan apa yang ingin kamu dengar dariku? Sebuah kekecewaan. Apa itu maksudmu? Dan kau senang akan hal itu? Kau tahu berapa lama aku menunggu di sana. Lalu tatapan orang-orang di sana, apa kau tahu? Tapi bukan itu yang aku khawatirkan. Dan satu hal yang membuatku sesak, kau tahu apa? Aku menyangka bahwa kau benar-benar serius denganku. Bahwa kau memang mencintaiku. Dan aku percaya. Ya, aku percaya. Tapi mungkin itu dulu, saat masa kuliah. Atau memang dari dulu kau memang tidak benar-benar mencintaiku. Apalagi dengan statusku, seorang wanita yang memiliki satu anak tanpa seorang pendamping. Dan itu membingungkan. Namun sampai saat ini yang membuatku sakit adalah, aku masih mencintaimu. Ya, aku memang mencintaimu. Aku tidak menyalahkanmu dalam hal ini. Ini salahku. Aku terlalu berharap sesuatu darimu. Betapa bodohnya aku”. Ernita tertawa sendiri.
“Tapi, Er”. Rudi mencoba membalas
“Sekarang, kita lupakan kita pernah bertemu dan saling mengenal. Aku mau pergi dan mencoba melupakan beberapa hal dengan apa yang telah terajdi pada diriku selama ini, dan sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi. Aku harap kamu mengerti. Selamat sore”. Ernitapun pergi meniggalkan Rudi. sementara Rudi hanya memandanginya dari belakang. Sedikitpun ia tak diberi kesempatan untuk bicara. Padahal, ia merasa sangat bersalah padanya dan ingin sekali bicara. Entah apa yang Ia rasakan? Tak lama hujanpun turun membasahi semua yang ada di atas tanah. Ia hanya terdiam meratapi kedaan. Sementara hari mulai senja, kerlap-kerlip lampu kotapun mulai terlihat menghiasi gedung dan taman kota. Orang-orang di tengah kota mulai ramai pulang dari kerja. Seiring dengan gelapnya hari, siangpun telah berganti menjadi malam.
Beberapa saat sebelum acara di sebuah gedung. Feri tampak gelisah karena mendapati Rudi yang tak kunjung menampakan batang hidungnya. Diwaktu yang bersamaan tampak para tamu undangan satu-persatu mulai datang. Pak Adi selaku orang yang membiayai acara ikut cemas mengenai keberadaan Rudi. Ia duduk di kursi belakang panggung sambil memegang segelas air dan sebatang rokok dan menatap jam kecil diatas meja di depannya.
“Ti, di mana Rudi?”. Feri bertanya pada Asti.
“Entah. Aku tak tahu”
“Kamu gimana Gus, tahu nggak?”. Agus hanya menggelengkan kepala.
“Kamu sudah mencoba meneleponnya, Ti?”
“Sudah berkali-kali aku telepon”
“Terus?”
“Tidak ia angkat”
“Ke mana dia, ya?”. Agus berbicara pelan
“Ayolah, bos. Kamu ada di mana sih? Acara sudah mau dimulai, kau belum juga muncul”. Feri berbicara sendiri.
“Gimana, semua lancar?”. Pak Adi tiba-tiba muncul
“Semua lancar, pak”. Feri memastikan
“Kring, kring”. Telepon berdering.
“Siapa itu, Ti?”. Tanya Feri kepada Asti.
“Ibunya Rudi. Tak seperti biasanya, ada apa ya ibunya Rudi menelepon aku?”. Ujar Asti penasaran.
“Coba kamu angkat”. Ujar Agus. Sementara Feri hanya menatap Asti.
“Hallo”. Asti mengangkat telepon
“Ini Asti?”.
“Iya, bu. Ada apa ya, bu”. Jawab Asti sopan.
“Rudi sekarang berada di rumah sakit”.
“Maksud ibu?”. Asti penasaran. Sementara Feri dan Agus hanya mengangkat dahinya karena tak mengerti degan apa yang sedang mereka bicarakan lewat telepon.
“Kenapa, Ti?”. Keduanya ikut penasaran
“Dari kemarin malam Rudi terbaring di rumah sakit dan tak bangun”.
“benarkah?”. Asti memotong
“Iya, nak. Dan ibu nggak tahu harus menghubungi siapa. Nak Asti mau menemani ibu di sini?”. Ibu Rudi memohon.
“Ibu sama siapa di sana?”
“Ibu sama Jabar dan Ida. Bapak lagi di jalan mau ke sini”.
“Baik, bu. Aku segera ke sana”.
“Terimakasih, nak”
“Sama-sama”. Asti menutup telepon.
“Ada apa, Ti?”. Feri dan Agus tampak penasaran karena mereka hanya mendengar pembincaraan dalam satu sisi, sehingga mereka tidak mengerti dan bingung.
“Sekarang kalian ikut aku?”
“Ke mana?”. Ujar Feri
“Rumah sakit”.
“Apa kau gila. Acara sebentar lagi dimulai. Tamu undangan sudah banyak yang datang. Apa yang sebenarnya terjadi, Ti?”.
“Rudi sekarang berada di rumah sakit. Dari semalam ia tidak sadarkan diri. Aku akan menyusulnya ke sana. Terserah kalian mau ikut aku atau tidak”. Feri memegang dahi dengan telapak tangannya. Sejenak ia memejamkan matanya, ia seolah tak percaya, kenapa kejadian seperti ini harus terjadi saat ini. Tak henti-henti ia menggelengkan kepala dan memandang Asti dan Agus.
“Gimana?”. Asti memastiakn keduanya, ikut atau tidak.
“Ini sangat ,mebingungkan bagiku, Ti”. Ujar Feri.
“Baiklah. Aku berangkat sendiri saja”
“Tunggu-tunggu”. Feri mencoba menahan Asti “Aku ikut sama kamu, Ti. Sementara kamu Gus, selesaikan semua masalah apapun yang akan terjadi di sini. Gimana?”. Asti hanya diam.
“Baiklah. Terserah kau saja. Aku sih gimana baiknya saja”. Agus mengiyakan. Mereka berduapun pergi. Namun sesaat sebelum keduanya pergi, Asti tampak menelepon seseorang di belakang. Terdengar dar suaranya, orang yang ia telepon sepertinya seorna perempuan. Tapi siapa? Feri hanya bisa menebak-nebak siapa yang Asti telepon. Setelah Asti selesai dengan teleponnya, akhirnya merekapun segera meluncur menuju rumah sakit tempat Rudi di rawat.
Tiba mereka di rumah sakit. Tampak ayah Rudi sudah tiba lebih dulu dari mereka. Sambil menjinjing makanan Asti dan Feri menghampiri
“Siang, bu?”. Asti menyapa. Tak disangka, ibu Rudi menyambut sapaan Asti dengan sebuah pelukan. Ia memeluk Asti dengan begitu erat, seolah tak ingin dilepaskan. Terlihat jelas pandangan kegelisahan dari mata sang ibu. Wajahnya tampak pucat dan matanya memerah. Air matapun keluar begitu deras tak terbendung keluar dari mata sang ibu yang menantikan anaknya yang terbaring kaku di atas ranjang dengan selang impusan yang menempel di tangan dan hidungnya dan tak kunjung sadar “Sungguh kasihan aku melihatnya”. Asti berbicara sendiri dalam hati.
“Sabar, bu”. Asti mengusap pundak ibu Rudi lembut
“Ibu tak tahu harus berbuat apa lagi nak, Asti. Sudah hampir dari semalam dia tak sadarkan diri. Ibu tidak tahu apa yang terjadi sebelum ia pulang ke rumah, karena ia terlihat baik-baik saja saat itu. Ibu cemas, takut nak ,Asti”. Ia menyeka matanya sendiri “Ibu takut dia ,,,,,”.
“SStttt ,,,,,”. Asti memotong pembicaraan dan mencoba meraih kedua tangan agar sang ibu tenang. “Lebih baik kita tunggu sampai kondisi Rudi pulih. Kita tunggu sampai ia bangun terlebih dahulu. Kita nggak boleh membuat keputusan sendiri mengenai keadaan Rudi saat ini, apalagi sampai menyangka yang tidak-tidak. Kita berdo’a saja, semoga tidak akan terjadi apa-apa pada Rudi”. Seiring dengan perkataan Asti, tampak sang ibu mulai tenang dan tidak mengeluarkan air matanya lagi. Namun rasa kekhawatirannya tampak jelas tidak bisa dibohongi terlihat dari sorotan matanya yang layu.
Sementara Ayah Rudi memperhatikan Rudi yang terkapar di depan pintu yang terlihat dari kaca pintu dari luar. Asti, Feri, ibu Rudi dan kedua adik rudi duduk dikursi panjang di sana. Dalam keheningan itu, ibu Rudi mulai menceritakan apa yang sebenarnya menimpa Rudi sampai ia bisa mengalami kejadian seperti sekarang dan kejadian-kejadian yang pernah menimpa Rudi sebelumnya. Dengan seksama mereka menyimak cerita sang ibu.
Tak lama kemudian,
“Orang tua Rudi!”. Dokter keluar dan memanggil.
“Iya, dok”. Ayah Rudi menyahut.
“Bisa bicara sebentar?”
“Bisa-bisa. Ada apa ya, dok?”. Tanya ayah Rudi heran. “Ayo, bu”. Ayah mengajak ibu untuk menemani.
“Sebaiknya bapak saja”
“Oh iya, dok”.
“Mari, pak”. Kemudian Ayah Rudi dan dokter masuk ke ruangan dokter. Tampak terlihat muka serius dari wajah dokter, seolah menggambarkan ia akan memberikan kabar yang tidak baik mengenai anaknya, Rudi.
Sementara ibu Rudi terus saja cemas dan khawatir, air matanya sudah tak keluar lagi menahan kesedihan yang menimpa anaknya. Di sisi lain, ia sendiri penasaran, iapun hanya bisa menduga-duga “Apa sebenarnya yang mereka bicarakan di dalam? Semoga saja tidak ada apa-apa. Ya, semoga”. Ibu berbicara sendiri dalam hati.
Kilasan masa lalu.
“Bu, kalau aku gede nanti, aku mau jadi jagoan kaya di film-film. Boleh kan, bu?”.
“Ya, kalau ibu si terserah kamu. Yang penting kamu seneng. Coba kamu tanya ayah”. Ibu meneruskan melipat baju bersihnya.
“Boleh ya, yah?”. Rudi memohon.
“Emang kalau udah gede, kamu mau jadi apa, nak?”
“Aku mau kayak superman, nolongin orang-orang yang lemah sama nembakin orang-orang jahat. Bolehkan, yah?”
“Itu baru anak ayah”
“Hore. Aku jadi superman. Hore”. Rudi berlari sambil memegang mobil mainan kesukaannya.
Tak lama bapak keluar lalu memanggil ibu, merekapun masuk bersama ke dalam ruangan. Sementara dokter menuggu di dalam. Keduanya duduk bersamaan di kursi yang telah disediakan di sana, sementara dokter berada tepat di depan mereka hanya terhalang oleh meja yang cukup besar dan kokoh, dan mereka saling berhadapan. Dokter itu tersenyum, namun jemari tangannya terus saja bergerak sendiri memukul-mukul meja dan bergetar, seolah mengisyaratkan sesuatu.
“Hmm,,,,,”. Dokter mengawali percakapan
“Ada apa, dok?”. Bapak penasaran
“Iya. Ada apa, dok?”. Sahut ibu menyambar
“Tenang, bu. Biarkan pak dokter menjelaskan apa yang terjadi”. Bapak mencoba menenangkan ibu “Silahkan pak dokter”.
“Nak Rudi ini, nampaknya sudah tidak bisa bertahan”
“Maksud dokter?”. Ibu menyambar.
“Tenang, bu”. Lagi-lagi bapak menenangkan ibu yang sepertinya sudah tidak sabar mendengar penjelasan dokter.
“jika menurut data riwayat data yang ada, usia anak bapak dan ibu mungkin hanya tinggal menghitung hari, atau bahkan jam, itupun jika kondisi fisiknya bisa bertahan. Sebagai seorang dokter, saya dan tim sudah berusaha sekuat tenaga. Namun, sepertinya Tuhan memiliki kehendak lain”
“Apa semua cara suda dilakukan, dok?”. Bapak mencoba optimis. Sementara ibu hanya bisa mengeluarkan air mata kering.
“Demi Allah! Saya telah melakukan semua cara, kecuali,,,,”.
“Kecuali apa, dok?”. Kali ini tidak hanya ibu yang penasaran, bapakpun ikut menyambar dan memotong perkataan dokter dan tangan merekapun saling menggenggam.
“Kecuali ada seseorang yang rela mengorbankan jantungnya untuk anak bapak dan ibu, dengan resiko,,,,,,”
“Resiko apa, dok?”
“Bertukar nyawa”. Keduanya terdiam
“Apa tak ada cara lain, dok?”.
“Tidak ada. Hanya itu satu-satunya cara”. Bapak menggeleng-gelengkan kepala.
“Aku tak percaya ini. Apa di rumah sakit ini tidak ada stok donor jantung seperti hal nya darah?”.
“Jika ada, kami akan langsung mengusulkan kepada bapak dan ibu. Tapi, inilah kenyataan, bahwa mencari donorkan jantung itu sangat sulit”. Kemudian,
“Dok, tolong ambil jantung saya”. Ibu memohon sambil menangis. Sementara dokter menatap bapak dengan kepala tertunduk mencoba menghindar dari tatapan ibu yang terlihat yang lesu dan penuh air mata.
“Ssttt,, tidak bu, ibu tidak perlu melakukan ini. Bapak yakin masih ada cara lain”.
“Apa bapak tidak mendengar tadi, tidak ada cara lain kecuali dengan ini, pak”. Ibu kembali mengeluarkan air mata, yang sepertinya sudah mulai habis. Bapak mencoba menenangkan ibu. Dengan hangat, bapak memeluk ibu dari isak tangisnya. Semakin ibu menagis, semakin kencang pula bapak memeluk ibu. Sementara dokter mencoba mencari pandangan lain, agar tak terbawa suasana. Ia merasakan kesedihan serta kecemasan yang dirasakan oleh mereka berdua, namun ia menahannya agar bisa menguatkan mereka.
Beberapa saat kemudian, di saat keputusasaan sedang mendera mereka, dan waktupun seolah tak mau bekerja sama, tiba-tiba,
“Tok, tok, tok”. Terdengar suara pintu yang diketuk
“Silahkan masuk”. Sapa dokter terhadap seseorang yang mengetuk pintu dari luar. Seseorang tersebut lalu membuka pintunya sendiri, lalu iapun masuk. Sementara bapak dan ibu tampak sedang menyeka kedua matanya yang basah dengan air mata. Dan seseorang tersebut ternyata seorang wanita. Ia tampak cantik dan begitu bercahaya, bagai malaikat yang dikirim tuhan untuk mendatangi mereka yang sedang mengalami masalah. Namun ketiganyapun tak ada yang tahu siapa gerangan wanita ini sebenarnya?
“Maaf, saya mengganggu. Dan saya telah mendengar semua percakapan bapak, ibu dan dokter tadi. Sekali lagi saya mohon maaf”.
Karena merasa tenang dan nyaman sekaligus penasaran dengan kehadirannya, ibupun bertanya kepada wanita tersbut
“Maaf nak. Kalau boleh tahu, nak cantik ini siapa, ya?”
“Perkenalkan, nama saya Ernita”. iapun lansung mencium tangan bapak dan ibu Rudi lembut.
Ibu dan ayah Rudipun merasa senang, sesaat mereka sedikit melupakan mengenai keadaan yang sedang mereka alami pada saat itu. Tampak ibu merasa nyaman dengan kehadiran Ernita.
“Nak Ernita ini, siapa ya?”. Ibu tersenyum
“Saya bukan siapa-siapa. Pak, bu, izinkan saya untuk berbicara empat mata dengan dokter”.
Awalnya mereka merasa aneh dengan keadan seperti itu, dan memang terlalu rumit untuk dijelaskan. Namun akhirnya dengan isyarat dokter, mereka mengerti dan bapak dan ibu Rudipun menuruti permintaan Ernita. di dalam ruangan hanya tinggal ada Ernita dan dokter.
**********************************************************

Lima puluh hari kemudian. Rudi berjalan dan langkahnya mengarah ke suatu tempat. Ia menggandeng seorang anak laki-laki yang masih kecil, Ahasan Rudi. merekapun berjalan sambil saling bergandengan tangan selayaknya bapak dan anak.
Setelah cukup jauh mereka berjalan, kemudian langkah merekapun terhenti di sebuah pemakaman yang letaknya tak jauh dari rumah Rudi. Rudipin mengajak Ahsan masuk ke pemakaman. Setelah berjalan cukup dalam, merekapun berhenti lagi disatu kuburan dengan sebuah nisan yang bertuliskan, Ernita binti Ahmad sajili.
Ahsan menaburkan bunga yang ia bawa dari rumah Rudi. Kemudian Rudi jongkok dan mengangkat kedua telapak tangannya. Seraya Ia memanjatkan do’a, sementara Ahsan masih sibuk dengan bunganya. Setelah selesai, kedua telapak tangannya ia usapkan pada wajahnya. Seonggok tanah kasar ia ambil dengan tangan kanan lalu ia gerakan jemari tangannya yang penuh dengan tanah. tak satupun kata ia keluarkan dari mulutnya, hanya memandang gunukan tanah berbalut hamparan bunga dan satu pohon kamboja. Di sinilah tempat peristirahatan terakhir dari seorang wanita yang teramat sangat ia kagumi dan tak terbayangkan sebelumnya. namun, entah apa ia yang pikirkan? lalu, iapun berdiri dan kembali menggandeng Ahsan. Tapi terlihat dari dirinya wajah yang berseri. Sebuah pemandangan yang tak pernah terlihat dari dirinya. Merekapun pergi.
Saat malam di rumah sakit lima puluh hari yang lalu.
“Saya tahu dengan maksud nak, Ernita. Tapi apa nak Ernita tahu dengan resikonya dan benar-benar ingin melakukannya?”
“Saya sudah tahu segala resikonya, dok. Saya sudah memikirkanya, dan saya benar-benar ingin melakukannya”.
“Jika berkenan,apa saya boleh tahu alasannya?”
“Saya rasa tidak, dok”.
“Saya mengerti. Kemudian maaf nak Ernita, apa Nak Ernita ada semacam permintaan? Sekali lagi saya mohon maaf”.
“Iya. Iya, dok. Ada tiga permintaan dari saya sebelum kita memulainya. Dan aku ingin dokter mwlakukannya”
“Akan kupastikan itu terjasi, nak.
“Terimakasih”
“Lalu apa permintaanmu, nak. Silahkan sebutkan”. Ernitapun mneyebutkan ketiga permintaanya. Sementara dokter mendengarkan dengan seksama.
“Pertama, tolong sandingkan saya dengan dia saat operasi berlangsung. Kedua, tolong segera singkirkan mayat saya setelah saya mati. Saya tidak mau saat dia bangun nanti, dia menagis mendapati tubuh saya yang sudah tak berdaya di sampingya. dan terakhir, Tolong berikan pesan dalm surat ini padanya”.

Sepucuk surat dari Aku
“Dengan menyebut nama Allah SWT aku menulis surat ini untukmu, raga yang tak pernah menyatu. Tidak ada maksud ataupun hal yang teramat penting yang akan aku sampaikan dalam surat ini, aku hanya berharap saat kau menerima dan mambaca surat ini, Kau dalam keadaan sehat tanpa sedikitpun merasakan kekurangan dalam dirimu. Dan jika kau hendak menanyakan bagaimana kabarku? Tenang saja, aku baik-baik saja dan aku merasa bahagia di sini.
Hei, kau masih ingat ketika masih di Universitas? Aku tahu, kau selalu memperhatikanku diam-diam. Dan hal itu selalu kau lakukan disetiap kesempatan. Namun saat itu terasa canggung, karena aku sudah memiliki teman yang lain dan datang sebelum kau. Tapi akupun tak keberatan, karena aku merasa senang ketika kau melakukan itu. Bahkan, aku sering datang lebih awal dan duduk berlama-lama hanya untuk menunggumu melewati kelasku di balik jendela kelas yang tembus dan terlihat dari dalam kelas. Dan Ketika kau tiba-tiba menghilang, Entah apa yang kurasakan saat itu.
Lalu, setelah bertahun-tahun tak bertemu, tiba-tiba kau hadir kembali dalam kehidupanku. Sungguh beberapa minggu belakangan ini, adalah hari-hari yang sangat menyenangkan dan paling membahagiakan dalam kehidupanku. Karena seperti biasa kau selalu menjadi pembeda dan selalu saja ada tempat yang kusisihkan dalam diriku untuk dirimu. Senang bisa bertemu denganmu kembali.
Dan untuk kejadian terakhir, sungguh itu membuat hatiku renyuh, aku bahagia karena bisa bertemu denganmu kembali, tapi di sisi lain aku harus marah padamu dan sungguh itu membuatku bingung. Tapi, itu tak mengubah apapun dalam diriku.
Bersaman dengan surat ini, aku titipkan Ahsan Rudi, anakku. Aku yakin kau pasti mengerti kenapa dibelakang anak itu tertera namamu. Aku berharap kau tidak keberatan jika ia memanggilmu “ayah”. Karena aku yang mengajarinya. Jangan lupa, bangunkan ia saat pukul empat pagi. Jangan biasakan ia tidur terlalu malam dan bangun setelah matahari bersinar. Biasakan ia membaca do’a sebelum memulai aktivitas, dan jangan beri ia makanan warung, karena gizinya sedikit. Satu lagi. Ia sangat suka sekali kentang rebus yang hanya diberi garam buatan ibunya, aku. Jangan terlalu panas tapi jga jangan terlalu dingin. Aku rasa hanya itu. Aku percaya kau akan menerima, merawat dan menjaganya dengan baik sampai ia dewasa dan tumbuh menjadi pria hebat sepertimu. Aku percaya itu.
Setelah aku sampaikan beberapa pesan dalam surat ini, aku berharap kau mengerti dan tetap menjalani hidup seperti biasa. Biarkan aku yang terbaring sambil memperhatikan kau dan Ahsan serta melihat senyuman manis kalian dari sisi yang lain. Dan sekarang akupun bisa tidur dengan tenang. Karena, meski kita tidak pernah sekalipun bersama, setidaknya ada sebagian dalam diriku yang menempel dan hidup dalam dirimu. Dari aku raga yang tak pernah menyatu”

 Ernita

Tamat

Iklan

2 thoughts on “tak terjelaskan

  1. Heehee
    Sebuah kisah yang ironi, dengan majas yang cukup sempurna !!!
    jika dikisahkan/dipublikasikan dalam sebuah film nyata lumayan bagus.
    tinggal di poles sedikit lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s