TANGGUNG JAWAB DAN KESEIMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM

COVER
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanggung pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama. Artinya dengan segala fakta yang ada, kemajuan teknologi serta keadaan zaman yang sudah tak lagi bisa ditebak, tanggung jawab tersebut butuh suatu kerjasama yang melibatkan segala pihak. Mulai dari keluarga, orang tua, lembaga pendidikan, guru, masyarakat setempat sampai pemerintah itu tidak bisa lepas dari tanggung jawab dari pendidikan. Terlepas berhasil atau tidak, tanggung jawab mengenai pendidikan tidak bisa begitu saja dilepas. Maka dari tu penulis mencoba menuangkan beberapa masalah mengenai tanggung jawab.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah mengenai masalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian anggung awab pendidikan dan pendidikan islam?
2. Siapakah yang bertanggung jawab atas pendidikan?
3. Apa itu keseimbangan dalam pendidikan Islam?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tanggung jawab pendidkan
2. Untuk mengetahui siapa saja yang bertanggung jawab pendidikan islam ini
3. Untuk mengetahui keseimbangan pendidikan islam

BAB II
PEMBAHASAN TANGGUNG JAWAB DAN KESEIMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM
A. Tanggung Jawab Pendidikan Islam
1. Pengertian tanggung jawab
Tanggung jawab menurut kamus besar Bahasa Indonesia W.J.S. Poerwadarminta adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya artinya jika ada sesuatu hal, boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya. Tanggung jawab ini pula memiliki arti yang lebih jauh bila memakai imbuhan ber-bertanggung jawab dalam kamus tersebut diartikan dengan “suatu sikap seseorang yang secara sadar dan berani mau mengakui apa yang dilakukan, kemudian ia berani memikul segala resikonya”.
Tanggung jawab untuk mengantarkan peserta didik ke arah tujuan tersebut yaitu dengan menjadikan sifat-sifat Allah sebagai bagian dari karakteristik kepribadiannya. Tanggung jawab tersebut mestinya sangat mudah untuk dimengerti oleh setiap orang. Tetapi jika diminta untuk melakukannya sesuai dengan definisi tanggung jawab tadi maka seringkali masih terasa sulit, merasa keberatan bahkan banyak orang merasa tidak sanggup jika diberikan suatu tanggung jawab. Tak jarang banyak orang yang sangat senang dengan melempar tanggung jawabnya, dengan kata lain suka mencari “kambing hitam” untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari perbuatannya yang merugikan orang lain. Dari Ibn Umar ra. Berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Masing-masing kamu adalah penggembala dan masing-masing bertanggung jawab atas gembalanya, pemimpin adalah penggembala, suami adalah penggembala terhadap anggota keluarganya, dan istri adalah penggembala di tengah-tengah rumah tangga suaminya dan terhadap anaknya. Setiap orang diantara kalian adalah penggembala, dan masing-masing bertanggung jawab atas apa yang di gembalakannya. (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Pengertian pendidikan
Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik, yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal. Dengan demikian, seyogyanya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu, sehingga cita-cita membangun Indonesia seutuhnya dapat tercapai (Depdiknas, 2010).
Dr. Mohammad Fadhil al- Djamaly berpendapat bahwa pendidikan adalah proses mengarahkan derajat kemanusiaan sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar).
Dari teori-teori di atas mengenai pengertian pendidikan, penulis memilki kesimpulan bahwa pendidikan adalah proses atau cara mningkatkan martabat manusia secara hakiki dengan tidak menghilangkan fitrah atau kemampuan dasar manusia baik yang terpengaruh dari dalam diri sendiri atau dari luar.
B. Tanggung jawab pendidikan dalam Islam
Dalam kegiatan apapun dalam menjalani kehidupan ini sudah pasti memliki nilai tersendiri, baik disadari atau tidak bagi pelakunya. Dan hal tersebut pelaku tidak mungkin bekerja sendiri untuk mencapai kegiatan tersebut agar bisa dikatakan berhasil, atau paling tidak telah menjalankan tugasnya dengan baik. Maka dari itu, pelaku tidak mungkin bekerja sendiri untuk mencapai hal itu. Dalam kata lain, aspek-aspek lain yang mendukung agar hal tersebut bisa tercapai, maka harus ada kesepakatan, kerja sama serta tanggung jawab dari berbagai pihak. Dalam hal ini yang berkaitan dengan judul makalah kami, maka tidak terlepas dari tiga unsur, yaitu keluarga, masyarakat dan pemerintah. Ke tiga hal tersebut sebagaimana telah tertuang dalam GBHN (Ketetapan MPR No. IV/MPR/1978), berkenaan dengan pendidikan dikemukakan antara lain sebagai berikut : “pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah”.
Adapun sumber lain menambahkan satu lagi dari tiga hal tersebut di atas, yaitu guru. Penegasan tersebut kami kutip dari buku “Dr. Zakiah Daradjat, dkk yang berjudul ILMU PENDIDIKAN ISLAM”. Dalam bukunya beliau menuliskan tiga hal, dengan urutan orang tua, guru dan masyarakat. Kemudian kami pemakalah mencoba menempatkan satu hal lagi, yaitu pemerintah dengan urutan paling buncit sesuai dengan yang telah tertuang dalam GBHN tadi. Jadi jika dijumlah, maka ada empat hal yang bertanggung jawab dalam masalah pendidikanislam, yaitu orang tua, guru, masyarakat dan pemerintah
1) Orang Tua
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
Pada umumnya orang tua tidak mengajari pendidkan sebagaimana pendidikan yang akan anak kita hadapi dimassa yang akan datang, yaitu pendidikan formal. Karena sifat pendidikan orang tua atau keluarga, lebih kepada pendidikan situasional atau alami. Dalam kata lain, apa yang dilihat, didengar dan dirasa oleh anak, itulah yang akan ia tangkap dan masuk ke dalam otak lalu timbulah karakter dari anak tersebut. Maka dari itu banyak yang mengatakan bahwa dimassa kanak-kanak itu, pendidikn karakter lebih penting dari pada pendidikan akademik atau kepandaian anak. Dan bagi orang tua yang peka, mereka akan sadar bahwasanya hal tersebut sangat penting. Karerna mereka tahu, anak-anaknya akan selalu memperhatikan tingkah laku mereka.
Kenyataan bahwa orang tua bertanggung jawab penuh atas pendidikan anak-anaknya. Bahkan tidak hanya pendidikan, nafkah, pengaruh sosial, dan lain-lain itu berlaku kepada orang tua mana saja walau bagaimanapun keadaannya. Karena tidaklah diragukan tanggung jawab orang tua terhadap apapun bukan hanya pendidikan baik disadari atau tidak, diterima sepenuh hatinya atu tidak, karena hal tersebut merupakan fitrah yang telah dikodratkan Allah SWT kepada orang tua. Dan mereka tidak bisa mengelak atas tanggung jawabnya karena ha tersebut merupakan amanah Allah SWT yang dibebankan kepad mereka.
Allah berfirman dalam surat At-tahrim ayat 6 :
……………………………………………………………………………………….
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, periharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….”. (QS: At-Tahrim. 6).
Adapun mengenai tuga-tugas orang tua terhadap anak-anaknya tertuang dalam sabda nabi :
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Artinya “
“Anas mengatakan bahwa Rasulullah bersanda : Anak itu pada hari ke tujuh dari kelahirannya disembelihkan akikahnya, serta diberi namanya dan disingkirkan dari segala kotoran-kotoran. Jika ia telah berumur enam tahun ia didik beradab susila, jika ia telah berumur Sembilan tahun dipisahkan tempat tidurnya dan jika telah berumur tiga belas tahun dipukul agar mau sembahyang (diharuskan). Bila ia telah berumur enam belas tahunboleh dikawinkan, setelah itu ayah berjabat tangan dengannya dan mengatakan : “saya telah mendidik, menajar dan mengawinkan kamu, saya mohon perlindungan Allah dari fitnahan-fitnahan di dunia dan di akhirat….”.
2) Guru
Guru adalah pendidik professional, karenanya secara sadar atau tidak ia tela merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan dari orang tua. Artinya saat orang tua menyerahkan anaknya kesebuah lembaga pendidikan, baik itu sekolah, pesantren dan lain-lain, berarti orang tua tersebut secara langsung telah melimpahkan sebagian tanggung jawabnya terhadap seorang guru. Dalam situasi tersebut, orang tua harus pandai-pandai memilih lembaga pendidikan mana yang benar-benar dalam hal pendidikan serta kompeten dalam bidangnya. Bukan hanya bagus dari infrastruktur lembaganya tetapi para tenaga pengajarnyapun harus jelas dan memiliki tanggung jawab. Artinya sebagai orang tua harus mengetahui betul lembaga apa, kemudian kriteria guru seperti apa, agar ketika orang tua menitipkan anaknya kepada lembaga pendidikan dengan harapan anaknya agar menjadi anak yang pandai, berkarakter, memiliki adab dan sebagainya, malah anak yang dititipkan justru tidak mendapatkan apa-apa atau bahkan mendapatkan perlakuan yang diluar bahkan jauh dari kata pendidikan apalagi tanggung jawab seperti yang sering terjadi di dunia pendidikan kita dewasa ini .
Adapun untuk menjadi seorang guru ada beberapa syarat, yaitu :
a. Takwa kepada Allah SWT
b. Berilmu
c. Sehat jasmani
d. Berkelakuan baik
a) Mencintai jabatannya sebai guru
b) Bersikap adil terhadap semua muridnya
c) Berlaku sabar dan tenang
d) Harus berwibawa
e) Harus gembira
f) Harus bersifat manusiawi
g) Bekerja sama dengan masyarakat
h) bekerja sama dengan masyarakat
Syarat untuk menjadi guru tersebut di atas kami ambil dari buku yang sama karangan Dr. ZAKIAH DARADJAT, dkk. ILMU PENDIDIKAN ISLAM. Terbitan tahun 2011 hal. 40-44.
3) Masyarakat (lingkungan)
Masyarakat turut serta dalam memikul tanggung jawab pendidikan. Masyarakat besar pengaruhnya dalam member arah terhadap pendidikan anak, terutama para pemimpin masyrakat atau penguasa di dalamnya.pemimpin masyyarakat muslim etntu saja menghendaki agar setiap anak dididik menjadi anak yang taat dan patuh menjalankan agamanya, kelompok kelasnya dan sekolahnya. Bila anak telah besar diharapkan menjadi nggota masyarakat yang baik pula sebagai warga desa, warga kota dan warga Negara.
Dengan demikian, di pundak mereka (masyarakat) terpikul keikutsertaan membimbing pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebab tanggung jawab pendidikan pada hakikatnya merupakan tanggung jawab moral dari setiap individu orang dewasa baik sebagai perorangan maupun kelompok sosial.
Prof. Dr. Oemar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, mengemukakan sebai berikut “
Di antara ulama-ulama mutakhir yang telah menyentuh persoalan tanggung jawab adalah Abbas Mahmud Al-Akkad yang menganggap rasa tanggung jawab sebagai salah-satu ciri pokok bagi manusia pada penegrtian Al-Qur’an dan islam, sehingga dapat ditafsirkan manusia sebagai :”Makhluk yang bertanggung jawab”.
Allah berfirman :
…………………………………………………………………………………….
Artinya :
“Setiap orang bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnya”.
(QS: Ath-Thur. 21)
4) Pemerintah
Sistem pendidikan nasional Indonesia diatur dalam Undang-undang Dasar 45, TAP MPR, dan peraturan-peraturan lainnya yang ditetapkan oleh pemerintah. Dalam penyelenggaraan pendidikan pemerintah melalui kementriannya (KEMDIKBUD & KEMENAG) mengaawasi jalannya berbagai proses dan fasilitas pendidikan.
Undang-undang BHP bisa menjadi landasan bagi pemerintah untuk melepaskan diri dari tanggung jawabnya terhadap pembiayaan pendidikan. Sebagaimana diatur dalam UU tersebut lembaga pendidikan yang berstatus badan hukum pendidikan (BHP) harus menanggung seluruh biaya operasional sendiri tanpa subsidi dari negara. UU BHP ini dibuat hanya untuk mengalihkan tanggung jawab pemerintah dari besarnya biaya pendidikan. Ditambahkan, dengan berlakunya UU No. 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan, potensi meningkatnya biaya pendidikan yang harus ditanggung orang tua dan peserta didik cukup terbuka. Pasalnya, dalam pasal 41 ayat 7 disebutkan bahwa peserta didik yang ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan harus menanggung biaya tersebut sesuai dengan kemampuan peserta didik, orang tua atau pihak yang bertanggung jawab membiayainya. UU BHP juga mengatur pembatasan kuota bagi pelajar berprestasi yang berhak memperoleh beasiswa pendidikan, yakni sebesar 20% dari total jumlah peserta didik pada sebuah lembaga pendidikan yang berstatus badan hukum. “Pemerintah memang tidak melepas (tanggung jawabnya) langsung, namun bantuan yang diberikan hanya untuk kuota 20%, diluar kuota itu pemerintah tidak bertanggung jawab atas pendidikan rakyatnya,”
Pendidikan nasional yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa adalah pendidikan yang bermakna proses pembudayaan. Pendidikan yang demikian akan dapat memajukan kebudayaan nasional Indonesia . Dalam pembukaan UUD 1945, jelas tertera bahwa tujuan pendirian negara adalah untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia, serta memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari kutipan tersebut, nampak jelas bahwa pemerintah negara republik adalah pemerintah yang menurut deklarasi kemerdekaan harus secara aktif melaksanakan misi tersebut. Di antaranya, dengan memajukan kesejahateraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun sekali lagi harus ditegaskan bahwa pemerintah di sisin hanya bertindak sebagai fasilitator, sementara pihak yang menjalankannya kembali dibebankan kepada thal di atas, yaitu orang tua, guru dan masyarakat.
C. Keseimbangan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam mewujudkan keseimbangan antara aspek-aspek pertumbuhan yang ada dalam individu dan masyarakat, yang artinya pendidikan Islam juga mewujudkan keseimbangan antara menjaga kebudayaan masa silam, tuntutan masa kini dan kebutuhan masa silam, tanpa mengutamakan salah satu di antaranya. Artinya pendidikan Islam tidak hanya mengungkit kejayaan masa lalu tanpa menghiraukan permasalahan yang meliputi masyarakat muslim sekarang ini, dan juga tidak hanya memenuhui tuntutan perkembangan sosial dan budaya masyarakat pada saat ini, tanpa mempertimbangkan akibat-akibat yang muncul di masa yang akan datang, dan demikin seterusnya.
Keseimbangan ini diartikan sebagai keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan. Rasul diutus Allah untuk mengajar dan mendidik manusia agar mereka dapat meraih kebahagiaan kedua alam itu. implikasinya pendidikan harus senantiasa diarahkan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. hal ini senada dengan FirmanAllah SWT:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (Al-Qashas : 77)
Dalam dunia pendidikan, khususunya dalam pembelajaran, pendidik harus memperhatikan keseimbangan dengan menggunakan pendekatan yang relevan. selain mentrasfer ilmu pengetahuan, pendidik perlu mengkondisikan secara bijak dan profesional agar peserta didik dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat di dalam maupun di luar kelas.
Agar keseimbangan pendidikan Islam tetap terjaga, dalam hal ini pendidik maupun peserta didik dan lebih luasnya bisa orang tua, lingkungan (masyarakat) dan pemerintah sebagaimana telah dituangkan di atas, penulis menemukan tiga aspek. Dengan asumsi, jika ketiga hal ini bisa dijaga, maka Insya Allah dengan izinnya semua apa yang kita idam-idamkan walaupun masih jauh dari kata mendekati sempurna akan tercapai, yaitu :
1. Kecerdasan intelektual (IQ)
2. Kecerdasan emosional (EQ)
3. Kecerdasan spiritual (SQ)

BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA
Daradjat Zakiah, dkk, Ilmu Pendidikan islam, Jakarta : Bumi Aksara, 2011
Rubiyanto, Nanik, Strategi Pembelajaran Holistik di Sekolah, Jakarta :PT. Prestasi Pustakarya , 2010
Agustian, Ary Ginanjar, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi Dan Spiritual, Jakarta : ARGA Publishing , 2007
Tim kelompok 11

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s